NADIKABAR.COM — Sebuah bangsa tidak selalu melemah akibat serangan dari luar. Ada kalanya kemundurannya justru bisa bermula dari dalam, ketika generasi yang diharapkan menjadi penopang masa depan mulai meragukan apakah masa depan yang dijanjikan benar-benar tersedia bagi mereka.
Gelombang demonstrasi di Prancis memperlihatkan persoalan tersebut. Aksi yang diduga bermula dari keresahan pelajar dan mahasiswa berkembang menjadi protes yang menyentuh persoalan lebih mendasar: mahalnya biaya hidup, kenaikan harga energi, ketimpangan upah, sulitnya memperoleh rumah, serta menurunnya kepercayaan terhadap pelayanan publik. Keresahan serupa juga muncul di sejumlah negara Eropa, meskipun pemicu dan dinamika politiknya mungkin berbeda.
Hal penting dari fenomena ini tentu bukan semata-mata seberapa besar jumlah demonstran yang terlibat, melainkan pesan sosial di baliknya, yaitu tentang semakin banyaknya anak muda yang merasa bahwa pendidikan dan kerja keras tidak lagi dapat menjamin kehidupan yang lebih baik di masa kini, terlebih bagi masa depan. Ini bisa menjadi alarm atau peringatan yang semestinya dapat dibaca lebih dalam daripada sekadar gangguan ketertiban.
Dalam biologi, tubuh memiliki suatu sistem imun untuk mengenali dan mengendalikan gangguan. Ketika patogen memasuki tubuh, sistem pertahanan mengaktifkan respons yang diperlukan, kemudian mengaturnya agar tidak merusak jaringan sehat. Tubuh yang sehat bukanlah tubuh yang bebas dari ancaman, melainkan tubuh yang mampu mengenali gangguan, merespons secara proporsional, dan memulihkan keseimbangan. Masyarakat pun juga memiliki mekanisme serupa. Kritik, demonstrasi, dan penyampaian aspirasi merupakan sebuah sinyal bahwa terdapat persoalan yang membutuhkan perhatian. Mahasiswa yang mempersoalkan kualitas pendidikan sedang mempertanyakan investasi masa depan. Pekerja yang menuntut upah layak menyuarakan adanya tekanan ekonomi dalam hidup, sedangkan anak muda yang kesulitan membeli rumah menghadapi hambatan menuju kehidupan mandiri yang mereka idamkan.
Ketika sinyal tersebut dapat diterima dan ditindaklanjuti, ketegangan dapat dikelola melalui dialog dan kebijakan. Namun, jika keluhan berulang tanpa ada repsons dan penyelesaian yang dirasakan memadai, ketidakpuasan yang muncul dapat terakumulasi menjadi sebuah krisis kepercayaan. Di sinilah analogi inflamasi sosial menemukan relevansinya. Dalam tubuh biologi kita, inflamasi merupakan mekanisme pertahanan yang diperlukan sebagai respons alami. Akan tetapi, adanya peradangan berkepanjangan dapat berisiko merusak jaringan yang seharusnya dilindungi. Demikian pula, kritik dan demonstrasi merupakan bagian sah dari kehidupan demokrasi, tetapi adanya kekerasan, penjarahan, pembakaran, dan perusakan fasilitas publik dapat mengubah aspirasi menjadi tindakan yang merugikan masyarakat itu sendiri.
Karena itu, hak menyampaikan kritik harus dibedakan secara tegas dari tindakan kekerasan. Kritik tidak boleh diperlakukan sebagai ancaman hanya karena mengganggu kenyamanan penguasa. Sebaliknya, alasan ekonomi maupun politik tidak dapat membenarkan adanya tindakan perusakan/anarkis.
Kesalahan yang mungkin lebih mendasar adalah jikalau memandang demonstrasi semata-mata sebagai persoalan keamanan. Penegakan hukum memang diperlukan, tetapi pendekatan keamanan tanpa pembenahan penyebab masalah ibarat menurunkan demam tanpa mencari sumber infeksi. Gejala penyakit mungkin dapat mereda, tetapi penyakit yang ada tetap ada dan dapat berkembang biak kembali.
Adanya tekanan ekonomi kemungkinan menjadi salah satu faktor penting dalam keresahan generasi muda Eropa. Terjadinya kenaikan harga pangan, energi, dan kebutuhan sehari-hari, disertai kesulitan mengakses perumahan serta ketidakpastian pekerjaan, mempersempit ruang bagi anak muda untuk membangun kehidupan mandiri. Persoalan ekonomi pun akhirnya dapat berubah menjadi persoalan psikologis dan sosial.
Pertanyaannya bukan lagi sekadar bagaimana dapat memenuhi kebutuhan bulanan, melainkan mengapa harus bekerja keras apabila kehidupan yang lebih layak semakin sulit dicapai. Jika pertanyaan itu menjadi keyakinan bersama, yang terancam bukan hanya stabilitas ekonomi, tetapi juga kepercayaan terhadap institusi dan kebijakan publik.