Kita teringat pada ungkapan yang populer dinisbatkan kepada Ir. Soekarno: “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” Terlepas dari perlunya verifikasi sumber primer atas atribusi kutipan tersebut, pesannya relevan untuk direnungkan. Perjuangan hari ini bukan hanya mempertahankan kemerdekaan secara formal, tetapi juga membenahi ketimpangan, memperluas kesempatan, dan memastikan institusi bekerja untuk kepentingan masyarakat.
Persoalan bangsa tidak akan selesai dengan mempertentangkan generasi muda dan negara, apalagi dengan membungkam kritik. Keberanian memperbaiki kekurangan dari dalam justru menjadi ukuran kedewasaan sebuah bangsa. Kritik semestinya menjadi masukan untuk memperbaiki kebijakan, bukan alasan untuk memusuhi warga yang menyampaikannya.
Pelajaran dari Eropa bukanlah bagaimana mencegah anak muda turun ke jalan, melainkan bagaimana mencegah persoalan yang mendorong mereka turun ke jalan terus dibiarkan. Demonstrasi sering kali merupakan gejala, bukan penyakit itu sendiri. Akar masalahnya dapat berupa kesempatan yang menyempit, kebutuhan dasar yang semakin sulit dipenuhi, atau hilangnya kepercayaan terhadap institusi.
Indonesia masih memiliki kesempatan memperkuat imunitas sosialnya melalui pendidikan bermutu, pekerjaan layak, perumahan terjangkau, literasi yang kuat, dan kebijakan yang sungguh-sungguh mendengarkan aspirasi masyarakat.
Sebab ketika generasi muda kehilangan harapan, yang melemah bukan hanya masa depan mereka, melainkan juga imunitas sosial bangsa. Negara yang mengabaikan kegelisahan generasinya sedang mempertaruhkan sesuatu yang jauh lebih mahal daripada ketertiban hari ini: kepercayaan yang menentukan keberlanjutan masa depan.
Kemerdekaan telah memberikan pada Bangsa Indonesia hak untuk menentukan nasib sendiri. Namun, kemerdekaan tidak otomatis menjamin setiap generasi memperoleh kesempatan hidup yang layak. Tugas kita adalah memastikan kemerdekaan menghadirkan pendidikan bermutu, pekerjaan bermartabat, keadilan, dan harapan bagi seluruh anak bangsa.
Jangan sampai generasi muda mewarisi kemerdekaan sebagai kebanggaan sejarah, tetapi kehilangan masa depan sebagai kenyataan hidup. Sebab bangsa yang besar bukan sekadar bangsa yang berhasil merebut kemerdekaan, melainkan bangsa yang mampu membuat setiap generasinya percaya bahwa masa depan layak dibangun bersama.
*) Misbakhul Munir SSi MKes, dosen Biologi UINSA Surabaya