Inara kemudian membacakan pesan yang menurutnya memperlihatkan konteks pembicaraan tersebut. Dalam chat itu, ia mengaku sempat mempertimbangkan untuk menerima poligami, tetapi masih memikirkan kondisi mental Mawa.

"Jujur aku juga kepikiran untuk iyain dia poligami, tapi benar-benar harus mantepin hati. Aku bilang, 'Kamu benar-benar perlu ke psikolog. Satu yang aku khawatirin kesehatan mental kamu'. 'Aku mentalnya juga udah hancur, Kak, bertahun-tahun, terus dapat kabar isu itu datang lagi. Sering banget aku ketawa sendiri'," demikian isi chat yang dibacakan Inara.

Inara menjelaskan, sarannya agar Mawa berkonsultasi dengan psikolog bukan bermaksud merendahkan. Ia merasa tidak memiliki kapasitas untuk memberikan nasihat profesional mengenai kondisi mental maupun persoalan rumah tangga orang lain.

"Itu sebabnya kenapa saya concern dan meminta beliau untuk counseling ke tenaga ahli. Mengingat saya bukan tenaga ahli, saya tidak punya kompetensi untuk bisa memberikan saran dan nasihat untuk rumah tangganya," bebernya.