Beban keuangan sedikit menurun menjadi 51,6 juta dolar AS. Perseroan mencatat rugi selisih kurs sebesar 9,8 juta dolar AS, terutama akibat pelemahan rupiah, dengan 7,1 juta dolar AS di antaranya merupakan rugi yang belum terealisasi dan bersifat nontunai.

Adjusted EBITDA perseroan meningkat 36,8 persen menjadi 212,9 juta dolar AS dari 155,6 juta dolar AS pada 9M25, dengan margin naik menjadi 11,6 persen dari 10,8 persen. Sedangkan adjusted EBITDA untuk periode 12 bulan terakhir (LTM) yang berakhir pada 30 September 2026 tercatat sebesar 277,9 juta dolar AS.

Sejalan dengan upaya memperkuat portofolio bisnis yang semakin terdiversifikasi, Perseroan mengalokasikan 148,5 juta dolar AS atau 97,9 persen dari total belanja modal sebesar 151,7 juta dolar AS untuk bisnis nonbatu bara.

Alokasi tersebut terutama ditujukan bagi pengembangan proyek Awak Mas sebesar 127,6 juta dolar AS, setara 84,1 persen dari total belanja modal perseroan.

Per 30 September 2026, progres konstruksi Awak Mas mencapai 72,84 persen menuju penyelesaian tahap C2, dengan total biaya proyek yang telah dikeluarkan sebesar 397,5 juta dolar AS.