NADIKABAR.COM — Indonesia dan Amerika Serikat berkolaborasi dalam melindungi situs bersejarah bangkai kapal USS Houston di Selat Sunda melalui program Ambassadors Fund for Cultural Preservation (AFCP) untuk melestarikan warisan budaya bawah laut dan sejarah kedua negara.

Kuasa Usaha ad interim AS Joy Sakurai mengatakan program AFCP telah berjalan selama 25 tahun untuk mendukung pelestarian warisan budaya di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

"Hari ini kita merayakan bagian dari sejarah bersama AS dan Indonesia," kata Sakurai dalam sambutannya mengenai proyek pelestarian USS Houston di Jakarta, Rabu.

Ia menjelaskan, USS Houston bersama kapal Australia HMAS Perth terlibat dalam pertempuran melawan musuh di Selat Sunda pada 1 Maret 1942. Kedua kapal tersebut tenggelam dalam pertempuran yang menewaskan lebih dari 1.100 awak kapal, termasuk sekitar 650 personel AS.

Menurutnya, perairan Selat Sunda kini telah menjadi monumen bagi para korban yang gugur dalam pertempuran tersebut.

Ia mengapresiasi Indonesia yang mengakui pentingnya situs tersebut dan terus berperan dalam menjaga kelestariannya.

Namun, katanya, dalam beberapa tahun terakhir kawasan bangkai kapal USS Houston menghadapi aksi pengambilan benda dari bangkai kapal, termasuk yang dilakukan tanpa izin.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, katanya, AS akan bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan RI dan para pemangku kepentingan terkait untuk membentuk dan melatih tiga kelompok pengawasan berbasis masyarakat selama dua tahun ke depan.

Kelompok-kelompok itu akan membantu memantau kawasan bangkai kapal USS Houston dan mencegah aktivitas pengambilan benda bersejarah secara ilegal.

"Proyek tersebut mencerminkan komitmen bersama Indonesia dan AS dalam menjaga warisan budaya, memperkuat keamanan maritim, dan meningkatkan hubungan antarmasyarakat kedua negara," katanya.

Ia berharap kerja sama tersebut dapat memastikan bangkai kapal USS Houston tetap terjaga sebagai simbol sejarah bersama.