Dalam dialog tersebut, para delegasi akan membahas sejumlah isu, termasuk transparansi ekosistem lintas negara, akuntabilitas algoritma, remunerasi, royalti yang belum teralokasikan, serta interoperabilitas dan standar infrastruktur digital.

"Dialog global ini menyediakan landasan faktual bersama untuk menangani kesenjangan sistemik dalam aliran royalti lintas negara," ujar Hermansyah.

Menurut dia, Bali dipilih sebagai lokasi dialog karena memiliki kekayaan budaya, ekspresi kekayaan intelektual, ekonomi kreatif, pengetahuan tradisional, serta aktivitas masyarakat yang berbasis budaya dan kreativitas.

Bali menjadi ruang untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada para delegasi melalui rangkaian kegiatan, termasuk pengenalan batik, kopi dengan indikasi geografis, kerajinan perak Celuk, Desa Penglipuran, dan Jimbaran.

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari itu diikuti perwakilan dari 35 negara, terdiri atas 30 delegasi yang hadir secara langsung dan lima lainnya mengikuti secara daring.