Data kementerian itu juga menunjukkan prevalensi stunting meningkat ketika anak memasuki fase makanan pendamping ASI (MPASI). Pemantauan triwulan III 2025 mencatat prevalensi pada bayi usia 0-5 bulan sekitar 10 persen, lalu naik menjadi hampir 20 persen pada kelompok usia 12-23 bulan.
Ketua Tim Pakar SSGI 2024 dari FKM Universitas Indonesia Iwan Ariawan menjelaskan kemiskinan hanya menerangkan sekitar 31 persen variasi prevalensi antarprovinsi. Cakupan makanan pendamping ASI justru menjadi faktor dengan pengaruh terbesar terhadap penurunan stunting.
Karena itu, penurunan stunting membutuhkan bantuan pangan, sekaligus pengetahuan dan praktik pengasuhan yang benar di rumah. Wilayah itulah yang digarap penyuluh, kader Bina Keluarga Balita, dan Gerakan Ayah Teladan Indonesia.
Pola serupa terlihat pada remaja. Data BPS mencatat angka perkawinan anak turun dari 8,06 persen pada 2022 menjadi 6,92 persen pada 2023, melampaui target RPJMN 2020-2024 sebesar 8,74 persen. Namun, rata-rata nasional itu menyimpan kantong persoalan. Nusa Tenggara Barat justru mencatat angka 17,32 persen, sedangkan prevalensi di perdesaan hampir dua kali lipat perkotaan.