Dari beragam limbah pertanian tersebut, limbah kelapa sawit termasuk tebangan tanaman tua yang diremajakan, dapat menjadi bahan baku biochar dengan volume terbesar.

"Kesadaran untuk memahami metode itu, mendorong pemerintah Indonesia-Jepang menggelar workshop perhitungan kredit karbon," tutur Eko.

Workshop tersebut mempertemukan sekitar 75 peserta dari Indonesia dan Jepang. Peserta berasal dari kalangan pemerintah, penyuluh pertanian, peneliti dan akademisi, pelaku industri biochar, pengembang proyek karbon, sektor swasta, serta organisasi internasional.

"Perwakilan negara-negara anggota ASEAN juga mengikuti kegiatan secara daring," katanya.

Workshop itu diselenggarakan Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, bekerja sama dengan National Agriculture and Food Research Organization (NARO) Jepang dan Ritsumeikan University Jepang, yang juga didukung Universitas Tribhuwana Tunggadewi.

Executive Director Asosiasi Biochar Internasional Indonesia (ABII) Phil Rickard menilai Indonesia dapat mengambil peluang ekonomi dari perdagangan karbon melalui pertanian berbasis biochar yang lebih tangguh di tengah perubahan iklim.

Pemanfaatan biochar ke dalam tanah yang berasal dari bahan baku limbah pertanian memungkinkan karbon bertahan dalam tanah selama puluhan tahun tanpa terlepas ke atmosfer.