NADIKABAR.COM — Penantian 35 tahun itu akhirnya selesai. Momen Timnas Indonesia mengangkat trofi datang juga, menjadi obat bagi inner child yang terluka.

FIFA ASEAN Cup 2026 menjadi ajang yang dimenangi Indonesia. Di babak final, tim Merah Putih mampu mengalahkan Thailand setelah melalui pertarungan yang sangat sengit.

Di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Senin (5/10/2026), Indonesia bermain imbang 2-2 melawan 10 pemain Thailand hingga 120 menit. Kemenangan dipastikan tim asuhan John Herdman itu lewat adu tendangan penalti dengan skor 4-2.

Lemari trofi Indonesia kini tak kosong lagi. Timnas juga tak akan lagi menjadi meme saat turnamen di ASEAN kembali digelar pada masa depan.

Indonesia terakhir kali mengangkat trofi bersama tim senior terjadi pada SEA Games 1991. Saat itu, SEA Games masih menggunakan tim senior dalam cabang sepak bola, dan Indonesia berhasil keluar sebagai juara.

Setelah itu, trofi seperti menjauh dari Timnas Indonesia. Indonesia memang masih beberapa kali mampu melangkah jauh dan mencapai partai final, tetapi selalu gagal mengakhiri turnamen sebagai juara.

Salah satu kegagalan yang paling diingat terjadi pada SEA Games 1997. Bermain sebagai tuan rumah, Indonesia kembali punya kesempatan mengakhiri dahaga gelar. Namun, Thailand menjadi penghalang. Setelah bermain imbang hingga waktu normal dan perpanjangan waktu, Indonesia akhirnya kalah lewat adu penalti dan harus puas dengan medali perak.

Kegagalan di SEA Games itu kemudian berlanjut di level senior lainnya. Di Piala AFF, Indonesia enam kali mencapai final, tetapi semuanya berakhir sebagai runner-up. Empat kali Indonesia kalah dari Thailand, sementara dua final lainnya berakhir dengan kekalahan dari Singapura dan Malaysia.

Bagi penggemar Timnas yang lahir pada era 1980-an dan 1990-an, rentetan kegagalan itu menjadi bagian dari pengalaman tumbuh bersama sepak bola Indonesia. Mereka melihat sendiri bagaimana harapan muncul setiap kali turnamen dimulai, lalu kembali runtuh ketika gelar juara gagal diraih.

Bukan cuma soal kalah di lapangan. Perjalanan Timnas juga diwarnai berbagai polemik. Ada insiden 'sepak bola gajah' pada Piala AFF 1998, isu kekalahan yang disengaja saat menghadapi Malaysia di final Piala AFF 2010, hingga dualisme Timnas pada 2014 akibat konflik di tubuh federasi.

Semua itu terjadi dalam rentang waktu yang panjang, dari akhir 1990-an hingga awal 2020-an. Tahun berganti, pemain datang dan pergi, tetapi satu hal tetap sama, yakni trofi juara tak kunjung kembali. Eh, malah Timnas lekat dijuluki spesialis runner-up.

Meminjam istilah parenting kekinian, generasi pendukung Timnas yang tumbuh pada era 1980-an dan 1990-an mungkin tidak punya banyak core memory yang indah bersama Timnas. Ingatan mereka justru dipenuhi kekalahan, kontroversi, dan kegaduhan di luar lapangan.

Karena itu, ketika akhirnya Timnas Indonesia kembali mengangkat trofi setelah 35 tahun, rasanya bukan sekadar kemenangan sebuah pertandingan. Ada luka lama yang ikut terobati.

John Herdman datang ke Timnas Indonesia pada Januari 2026 dengan reputasi sebagai pelatih yang punya rekam jejak kuat. Pelatih asal Inggris itu dikenal sebagai history maker setelah mencatat prestasi bersama Timnas Putri Selandia Baru serta Timnas Putri dan Putra Kanada.