Namun, sepak bola kembali menunjukkan betapa cepat keadaan bisa berubah. Bermain dengan 10 orang, Thailand justru mencetak gol balasan pada menit ke-87 lewat Iklas Sanron. Skor 1-1 bertahan hingga waktu normal berakhir dan laga harus dilanjutkan ke babak tambahan.
'Kutukan' Indonesia saat menghadapi Thailand seolah kembali menghantui. Pada menit ke-111, Peeradol Chamrasamee menjebol gawang Indonesia dan membalikkan keadaan. Thailand unggul 2-1, sementara waktu Indonesia untuk menyelamatkan gelar semakin menipis.
Sebagian pendukung Indonesia mulai meninggalkan tribun. Dengan waktu yang terus berjalan dan skor 1-2, mereka mungkin sudah merasa tahu bagaimana cerita ini akan berakhir, Indonesia kembali kalah dari Thailand di partai final.
Namun, ketika sebagian penonton mulai menyerah, Skuad Garuda justru belum selesai. Lima menit setelah Thailand berbalik unggul, Elkan Baggott mencetak gol penyama kedudukan. SUGBK yang sempat diliputi kekecewaan kembali meledak. Indonesia hidup lagi.Skor 2-2 bertahan hingga babak tambahan berakhir. Trofi pun harus ditentukan lewat adu penalti.
Di titik ini, ketegangan mencapai puncaknya. Semua penendang Indonesia berhasil menjalankan tugasnya. Thailand tak seberuntung itu. Tembakan Sarach Yooyen membentur tiang, sementara sepakan Nattapong Sayriya berhasil diblok Emil Audero. Indonesia juara FIFA ASEAN Cup 2026!
Peluit panjang berubah menjadi ledakan kegembiraan. Pemain berhamburan, tribun kembali bergemuruh, dan mereka yang sempat meninggalkan stadion mungkin hanya bisa menyesal karena melewatkan lima menit paling gila dalam perjalanan Timnas. Setelah 35 tahun, Indonesia akhirnya mengangkat trofi lagi.
Pendukung Timnas yang lahir pada 1980-an dan 1990-an mempunyai cara sendiri untuk merayakan keberhasilan Indonesia. Mereka mengunggah foto-foto momen mendukung Timnas dengan akhir yang mengecewakan.
Final Piala AFF 2010, final Piala AFF 2016, hingga final Piala AFF 2021 menjadi beberapa momen yang diunggah pendukung Indonesia.
Salah satu pendukung Indonesia yang paling diingat adalah Hendri Mulyadi. Dia menginvasi lapangan saat Indonesia melawan Oman pada 2010 di ajang Kualifikasi Piala Asia. Pendukung asal Cikarang, Jawa Barat, itu begitu frustrasi dengan Timnas hingga ingin turun ke lapangan untuk mencetak gol ke gawang lawan. Saat itu, Indonesia kalah 1-2 dari Oman.
Kini, semua core memory buruk itu telah terobati. Indonesia sudah meraih trofi. Anak-anak yang dulu tumbuh dengan luka sepak bola akhirnya mempunyai satu kenangan yang berbeda: malam ketika mereka melihat Indonesia menjadi juara.
Namun, cerita Timnas dan Herdman belum selesai. Piala Asia 2027 sudah menanti. Empat tahun lalu, Indonesia sudah mencetak sejarah dengan lolos ke babak 16 besar Piala Asia. Kini, ekspektasi tentu lebih tinggi. Setelah akhirnya mengetahui bagaimana rasanya menjadi juara, suporter Indonesia boleh bermimpi lebih jauh.
Sebab, mungkin inilah hadiah terbesar dari penantian selama 35 tahun: bukan hanya sebuah trofi, melainkan kesempatan bagi generasi berikutnya untuk tumbuh dengan core memory yang jauh lebih indah tentang Timnas Indonesia.
Dan untuk generasi 80-an dan 90-an, inner child itu akhirnya bisa tersenyum.