Bersama Timnas Putri Kanada, Herdman berhasil mempersembahkan dua medali perunggu Olimpiade, masing-masing pada 2012 dan 2016. Setelah beralih menangani tim putra, ia kembali mencatat sejarah dengan membawa Kanada lolos ke Piala Dunia 2026.
Namun, perjalanan Herdman bersama Indonesia tidak langsung berjalan mulus. Turnamen pertamanya, Piala AFF 2026, justru berakhir mengecewakan. Dengan skuad yang di atas kertas cukup mewah, Indonesia hanya finis di posisi ketiga fase grup dan gagal melaju ke semifinal.
Indonesia memang mampu meraih kemenangan atas Kamboja dan Timor-Leste di ajang itu. Namun, hasil tersebut tak cukup untuk membawa Skuad Garuda lolos setelah dihajar Vietnam 0-3 dan hanya bermain imbang 1-1 melawan Singapura.
Kegagalan itu sempat menimbulkan tanda tanya terhadap Herdman. Pelatih yang sebelumnya dikenal mampu membawa tim-timnya mencetak sejarah kini harus menghadapi tantangan baru, yakni mengakhiri penantian panjang Indonesia untuk meraih gelar juara.
Tekanan semakin besar ketika FIFA ASEAN Cup 2026 bergulir. Bermain di kandang sendiri dengan kekuatan pemain seperti Thom Haye, Ragnar Oratmangoen, hingga Mitchell Baker, Indonesia datang dengan satu target: JUARA.
Setelah kegagalan di Piala AFF, Herdman tahu tak ada ruang untuk kembali terpeleset. Dia harus membuktikan bahwa kegagalan pada turnamen pertamanya bersama Indonesia hanyalah sebuah episode, bukan gambaran dari kemampuan tim yang dibangunnya.
Jawaban awal datang saat Indonesia mengalahkan Singapura 2-0. Namun, hasil itu tak berlanjut kala Timnas tampil di laga kedua.Kevin Diks cs kemudian ditahan imbang 0-0 oleh Malaysia. Hasil itu membuat persaingan di grup semakin ketat dan posisi Indonesia belum aman. Tiket ke final pun harus ditentukan pada laga terakhir melawan Bangladesh.
Syaratnya tidak mudah. Indonesia wajib menang dengan margin besar untuk mengamankan posisi teratas dari kejaran Malaysia. Di saat yang sama, Malaysia juga menghadapi Singapura dan masih berpeluang merebut posisi Indonesia.
Dalam situasi serba genting itu, Skuad Garuda justru tampil menggila. Indonesia menggilas Bangladesh 9-2, dengan Mitchell Baker mencetak lima gol. Dua gol pada masa injury time, masing-masing melalui Kevin Diks dan Baker, menjadi penentu. Indonesia akhirnya unggul produktivitas gol atas Malaysia dan memastikan melaju ke babak final.
Drama berujung manis itu langsung disambut gegap gempita. Bumbunya makin komplet dengan keributan kecil antara warganet Indonesia dan Malaysia di media sosial. Namanya juga sepak bola, kemenangan rasanya memang belum lengkap kalau belum ada bahan saling ledek.
Buat kami, generasi yang tumbuh bersama Timnas sejak era 1980-an dan 1990-an, ada kebahagiaan yang terasa begitu personal. Setelah puluhan tahun melihat Indonesia datang ke final, berharap, lalu pulang tanpa trofi, kali ini tetap saja kami kembali seolah diberi alasan untuk bermimpi. Mungkin kecil, mungkin masih ragu, tapi tetap ada satu pertanyaan yang muncul, bagaimana kalau kali ini benar-benar bisa? Bagaimana kalau kali ini benar-benar waktunya?
Hanya saja, tetap tak bisa dimungkiri, pengalaman puluhan tahun rupanya punya cara sendiri untuk mengerem euforia itu. Ada suara kecil yang mengingatkan untuk jangan terlalu yakin. Kami sudah terlalu sering melihat harapan tumbuh tinggi lalu patah di ujung perjalanan.
Final Indonesia vs Thailand di SUGBK berlangsung sengit. Harapan mulai menyala lagi pada menit ke-84 ketika Indonesia mendapat tendangan bebas yang dieksekusi Dean James. Bola meluncur ke gawang dan membawa Skuad Garuda unggul 1-0.
Thailand semakin dalam masalah setelah Nicholas Mickelson mendapat kartu kuning kedua akibat pelanggaran terhadap Ole Romeny. Unggul jumlah pemain dan hanya beberapa menit dari kemenangan, Indonesia tampak berada di jalur yang tepat.