Salah satu yang dinilai penting adalah pembangunan fasilitas pilot plant di Indonesia. Fasilitas tersebut diperlukan untuk menjembatani hasil riset material di laboratorium sebelum masuk ke produksi baterai skala komersial.

"Pilot itu kita tidak perlu langsung membuat gigawatt hour. Kita perlu bridging tim redaksi material ini ke sana," kata dia.

Dengan adanya pilot plant, teknologi yang sudah dikembangkan di laboratorium bisa diuji dalam skala lebih besar sebelum masuk tahap industrialisasi.

Kolaborasi Indonesia-Malaysia itu diharapkan menjadi langkah awal membangun ekosistem baterai ASEAN. Dengan menggabungkan riset, material, fasilitas produksi, dan pasar regional, ASEAN diharapkan tak hanya menjadi basis produksi mobil listrik, melainkan juga mampu mengembangkan baterainya sendiri.