Fadli Zon menambahkan bahwa pengusulan Tari Zapin juga penting untuk memperkuat visibilitas warisan budaya tersebut di tingkat global. Menurutnya, keragaman ekspresi Tari Zapin di kawasan Asia Tenggara dapat menjadi ruang untuk memperkuat hubungan antarmasyarakat dan kerja sama kebudayaan antarnegara.

"Bagi Indonesia, pengusulan ini penting untuk memperkuat visibilitas Zapin di tingkat global dan menunjukkan bahwa keragaman ekspresi budaya di kawasan Asia Tenggara justru menjadi dasar persatuan, silaturahmi, saling menghormati, dan kerja sama antarnegara. Mudah-mudahan nominasi ini berjalan lancar dan kita dapat bersama-sama merayakan keindahan ekspresi budaya Tari Zapin," ungkapnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan, Endah T. D. Retnoastuti, menjelaskan bahwa Tari Zapin merupakan tradisi budaya yang telah hidup dan berkembang sejak abad ke-14 di berbagai negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, dan Singapura. Tradisi tersebut tidak hanya hadir dalam bentuk tari, tetapi juga mencakup gerak, musik, lagu, serta pengetahuan dan praktik yang diwariskan dari generasi ke generasi.

"Inisiatif pengusulan ini bertujuan memperkuat kearifan kebudayaan di tingkat regional dan persaudaraan antarbangsa di Asia Tenggara. Saat ini proses pengusulan masih dalam tahap persiapan, sehingga diperlukan kerja bersama antara komunitas, pemerintah daerah, dan kementerian terkait untuk memastikan proses ini dapat terlaksana dengan baik, termasuk memastikan keterlibatan dan persetujuan komunitas secara bebas dan berdasarkan informasi yang memadai atau free, fair, and informed consent," ungkap Endah.

Sementara itu, Wakil Duta Besar Kedutaan Besar Malaysia untuk Indonesia Farzamie Sarkawi menyampaikan bahwa Malaysia menyambut baik dan bangga menjadi bagian dari nominasi multinasional Tari Zapin bersama Indonesia, Brunei Darussalam, dan Singapura. Menurutnya, pengusulan ini juga merefleksikan hubungan sejarah dan kebudayaan yang telah terjalin melintasi batas geografis.

"Malaysia bangga menjadi bagian dari nominasi multinasional ini bersama Indonesia, Brunei Darussalam, dan Singapura. Bagi kami, ini bukan sekadar nominasi budaya, tetapi juga merupakan refleksi dari hubungan sejarah dan kebudayaan yang telah mengikat kita bersama. Karena itu, penting untuk memastikan para pelaku dan penjaga tradisi tetap menjadi bagian utama dalam proses ini agar pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman mereka dapat terus diwariskan," ungkap Farzamie.