NADIKABAR.COM — PT Reasuransi Indonesia Utama (Persero) atau Indonesia Re melakukan uji emisi terhadap kendaraan operasional dan dinas guna mendukung upaya pengendalian emisi kendaraan sebagai bagian implementasi program Langit Biru.
Kepala Divisi TISL & ESG Indonesia Re, Mardian Adhitya mengatakan pengujian dilakukan untuk mengetahui tingkat emisi kendaraan yang digunakan dalam kegiatan operasional perusahaan sekaligus memastikan kendaraan memenuhi ambang batas emisi yang berlaku.
"Kami ingin secara sukarela mengukur emisi kendaraan yang kita pakai sehari-hari. Ini tahap awalnya, mengukur dulu di lingkungan perusahaan. Kita sama-sama ingin mencapai Langit Biru," kata Mardian dalam kegiatan uji emisi di Jakarta, Selasa.
Mardian mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) sebagai badan usaha milik negara (BUMN) untuk mendukung program pemerintah menuju net zero emission.
Ia menyampaikan Indonesia Re meskipun bergerak di sektor jasa keuangan, tetap berupaya mengurangi dampak kegiatan operasional terhadap lingkungan melalui berbagai program berbasis lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG).
Selain kegiatan uji emisi, kata dia, perusahaan telah memasang panel surya di lingkungan kantor.
Indonesia Re juga memasang panel surya melalui program TJSL di sekolah yang berada di sekitar kantor perusahaan.
Tidak hanya itu, perusahaan mulai mengurangi penggunaan air minum dalam kemasan dengan menggunakan tumbler dalam kegiatan rapat, menerapkan sistem kerja tanpa kertas (paperless), serta mendorong karyawan beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum.
"Sekarang 60 persen karyawan Indonesia Re menggunakan transportasi publik," ujarnya.
Mardian mengatakan perusahaan juga telah menghitung penggunaan air, listrik, dan bahan bakar secara lebih terukur sejak 2022.
Data tersebut digunakan sebagai dasar untuk mengupayakan pengurangan penggunaan sumber daya dari tahun ke tahun.
Dalam kegiatan uji emisi itu, ia juga menyebut sejumlah kendaraan perusahaan telah menggunakan listrik.
Kendaraan direksi antara lain telah didukung kendaraan listrik, sedangkan sebagian kendaraan kepala divisi menggunakan kendaraan hibrida.
Namun demikian, kendaraan operasional masih sebagian besar menggunakan bahan bakar fosil, termasuk dua kendaraan yang menggunakan bahan bakar diesel.
Mardian berharap pengujian emisi dapat menjadi langkah awal untuk mengetahui kondisi kendaraan sekaligus menentukan tindak lanjut apabila terdapat kendaraan yang menghasilkan emisi di atas ambang batas.
"Kami juga mohon saran dari tim teknisi, kira-kira apa yang harus kami lakukan seandainya tidak lulus tes, misalkan emisinya melewati batas ambang," katanya.
Ia menambahkan hasil pengujian nantinya dapat menjadi bahan evaluasi perusahaan dalam menentukan langkah perawatan atau perbaikan kendaraan agar emisinya dapat ditekan.
"Harapannya kita bersama-sama bisa mengurangi dampak operasional perusahaan terhadap lingkungan," ujar Mardian.