NADIKABAR.COM β Kedutaan Besar Republik Indonesia di Washington, D.C., Amerika Serikat menggandeng Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk menyelenggarakan forum kolaborasi dengan berbagai institusi keuangan dan lembaga konservasi global untuk melindungi kawasan Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle).
Forum tersebut dijadwalkan berlangsung di Washington, D.C., pada musim semi tahun depan dengan melibatkan Bank Dunia, International Union for Conservation of Nature (IUCN), World Wide Fund for Nature (WWF), The Nature Conservancy (TNC), World Resources Institute (WRI), Conservation International (CI), hingga Global Environment Facility (GEF).
Dalam pernyataan resmi yang diterima di Jakarta, Minggu, Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat Indroyono Soesilo menyatakan bahwa pelestarian terumbu karang tidak hanya menyangkut perlindungan terhadap ekosistem maritim, tapi juga berkaitan erat dengan ketahanan pangan, keberlanjutan ekonomi biru, dan kesejahteraan masyarakat pesisir.
βKarena itu, diperlukan kolaborasi internasional yang kuat agar kekayaan laut Indonesia dapat terus terjaga dan memberikan manfaat bagi generasi mendatang,β ujarnya.
Indroyono menuturkan, Indonesia berupaya mempertemukan kepentingan konservasi dengan agenda pembangunan ekonomi dan ketahanan pangan melalui forum kemitraan tersebut.
Dukungan internasional yang didapatkan nantinya diharapkan bisa direalisasikan menjadi program pembiayaan, pertukaran ilmu pengetahuan, dan program nyata yang memberikan manfaat bagi ekosistem laut serta masyarakat pesisir.
Kawasan Segitiga Terumbu Karang mencakup enam negara, yakni Indonesia, Malaysia, Papua Nugini, Filipina, Kepulauan Solomon, dan Timor Leste, dengan wilayah laut seluas lebih dari enam juta kilometer persegi.
Sedangkan luas area terumbu karang di kawasan tersebut diperkirakan mencapai 75.000 kilometer persegi. Indonesia memiliki sekitar 60.000 kilometer persegi terumbu karang, menjadikannya negara dengan cakupan terumbu karang terbesar di kawasan tersebut.
Kawasan itu menjadi habitat lebih dari 3.000 spesies ikan karang dan sekitar 76 persen spesies terumbu karang dunia.
Lebih dari 120 juta penduduk di kawasan tersebut bergantung langsung pada laut untuk memenuhi kebutuhan pangan dan menopang kehidupan mereka.
Setiap tahunnya, potensi nilai ekonomi di daerah itu diperkirakan mencapai 3 miliar dolar AS (sekitar Rp54,22 triliun) di sektor perikanan terumbu karang, 1,5 miliar dolar AS (Rp27,11 triliun) di sektor perikanan tuna, serta 12 miliar dolar AS (Rp216,89 triliun) di sektor pariwisata alam.
Selain menopang ekonomi, terumbu karang juga berperan sebagai benteng alami yang melindungi sekitar 26 juta penduduk pesisir dari gelombang laut dan badai.
Indonesia telah berpengalaman dalam menjalin dan mengelola kemitraan internasional terkait konservasi terumbu karang sebelumnya.
Coral Reef Rehabilitation and Management Program - Coral Triangle Initiative (COREMAP-CTI) yang ditutup pada 2022 memperoleh dukungan pinjaman Bank Dunia sebesar 47,38 juta dolar AS (Rp856,35 miliar), hibah Global Environment Facility (GEF) 10 juta dolar AS (Rp180,74 miliar), serta kontribusi pemerintah Indonesia 5,74 juta dolar AS (Rp103,74 miliar).
Program tersebut kemudian dilanjutkan dengan Oceans for Prosperity Program atau Program Laut untuk Kesejahteraan (LAUTRA) senilai 210 juta dolar AS (Rp3,79 triliun).
Program yang dikelola KKP bersama Kementerian Perencanaan dan Pembangunan Nasional (PPN) tersebut diarahkan untuk memperkuat 8,3 juta hektare kawasan konservasi maritim di 11 provinsi.
LAUTRA juga mendapat dukungan hibah dari PROBLUE Multi-Donor Trust Fund sebesar 5 juta dolar AS (Rp90,37 miliar) dan Pemerintah Kanada sebesar 7,3 juta dolar AS (Rp131,94 miliar).