Satrya mengatakan Indonesia mendukung langkah UNESCO untuk memperluas pembelajaran darurat, pelatihan guru, layanan psikososial, pendidikan inklusif Dan juga pendidikan tinggi dan vokasi.
Dalam laporan 15 Oktober 2026, UNESCO menyebut sekitar 40.000 mahasiswa telah memperoleh manfaat dari Jaringan Gaza Virtual Campus dan ruang pembelajaran sementara.
Inisiatif itu memperlihatkan bahwa pendidikan tetap dapat dipertahankan di tengah kerusakan infrastruktur, meskipun pemulihan sekolah dan perguruan tinggi secara fisik tetap mendesak.
Indonesia juga menegaskan bahwa pengembangan kurikulum dan pemulihan pendidikan harus menghormati kepemilikan nasional Palestina serta kewenangan Otoritas Palestina.
Kerja sama UNESCO-UNRWA perlu diperkuat dengan menempatkan kebutuhan masyarakat Palestina sebagai prioritas utama.
"Mempertahankan pendidikan Palestina berarti menjaga harapan sebuah generasi sekaligus memperkuat kemampuan bangsa Palestina membangun masa depannya sendiri. Indonesia akan terus mendukung upaya internasional agar hak atas pendidikan tidak menjadi korban konflik," katanya.