Namun, perubahan komposisi bisnis tersebut turut memengaruhi margin bruto perseroan. Masuknya jasa padat karya dengan margin yang lebih rendah membuat margin bruto INET turun dari 37,3% pada periode sebelumnya menjadi 13,2%.

Untuk mendukung ekspansi, INET sebelumnya menghimpun dana melalui rights issue senilai Rp3,20 triliun serta penerbitan Obligasi dan Sukuk dengan nilai hingga Rp1 triliun.

Sejalan dengan ekspansi dan aksi korporasi tersebut, total aset INET pada 1H26 mencapai Rp6,11 triliun, dibandingkan Rp760,37 miliar pada FY25. Kas dan setara kas meningkat menjadi Rp4,34 triliun dari Rp404,44 miliar.

Pada periode yang sama, liabilitas tercatat Rp2,30 triliun, naik dari Rp331,16 miliar pada FY25. Ekuitas juga bertambah menjadi Rp3,81 triliun dari Rp429,21 miliar.

INDY terus mengembangkan lini kendaraan listrik sebagai bagian dari diversifikasi bisnis di luar batu bara. Pengembangan tersebut dilakukan melalui tiga entitas dengan fokus yang berbeda.

ALVA menangani segmen motor listrik. Sementara Ilectra Motor Group/Invi menggarap distribusi bus dan truk listrik untuk kebutuhan sektor industri serta pertambangan. Adapun KALISTA bergerak di kendaraan komersial melalui model fleet as a service.

Hingga September 2026, ALVA telah mendistribusikan 20.000 unit motor listrik. Jumlah tersebut sudah dua kali lipat dibandingkan distribusi sepanjang FY25 yang mencapai 10.000 unit.

Di segmen kendaraan komersial, KALISTA saat ini mengelola 101 unit bus listrik dan telah mengoperasikan 225 charging station di 120 lokasi.

INDY selanjutnya mengarahkan pengembangan kendaraan listrik ke penggunaan komersial, termasuk sektor pertambangan. Perseroan juga membuka peluang pengembangan pendapatan berulang melalui berbagai layanan pendukung kendaraan listrik.

Dari laporan keuangan 1H26, INDY membukukan pendapatan US$1,15 miliar. Angka ini meningkat 19,87% dibandingkan US$956,82 juta pada 1H25.

Laba bersih perseroan juga naik 354,30% secara tahunan menjadi US$10,20 juta dari US$2,24 juta.