Cirebon juga memiliki Sumur Jala Tunda yang berada di samping Masjid Pejlagrahan, Kampung Grubugan, Kelurahan Kasepuhan. Sumur yang menurut pengelola menjadi peninggalan Pangeran Cakrabuana itu memiliki kedalaman sekitar enam meter dan terbagi untuk laki-laki serta perempuan. Ketua DKM Masjid Pejlagrahan, Sulaeman, menjelaskan masyarakat dahulu memanfaatkan sumur tersebut untuk memudahkan nelayan berwudu sebelum melaksanakan salat. Hingga kini, masyarakat dan peziarah dari luar daerah masih mengambil airnya.

Berbeda dengan tiga sumur lainnya, Sumur Upas atau Sumur Soka di Petilasan Keraton Dalem Agung Pakungwati kini tidak berfungsi dan tertutup. Kepala Bagian Informasi dan Pariwisata Keraton Kasepuhan, Iman Sugiman, menyebut masyarakat mengenal sumur tersebut sebagai tempat merendam senjata agar mengandung racun untuk menghadapi penjajah. Nama Sumur Upas sendiri berkaitan dengan kata "upas" yang berarti racun. Sumur itu juga berada di bawah pohon soka besar yang memiliki keunikan karena bunganya tumbuh pada dahan.

Keempat sumur tersebut memperlihatkan bagaimana peninggalan sejarah Cirebon masih memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat hingga sekarang. Sumur Ketandan, Sumur Kejayaan, Sumur Jala Tunda, dan Sumur Upas tidak hanya menyimpan cerita tentang masa lalu, tetapi juga menjadi bagian dari tradisi ziarah dan budaya setempat. Bagi masyarakat dan peziarah, keberadaan sumur-sumur tua itu menjadi pengingat terhadap sejarah Cirebon serta warisan leluhur yang terus terjaga.