NADIKABAR.COM β€” PT Telkom Infrastruktur Indonesia atau InfraNexia membidik perluasan basis pelanggan eksternal, setelah proses spin-off aset wholesale fiber connectivity dari PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk.

Direktur Utama InfraNexia Lukman Hakim Abd Rauf mencatat kontribusi pendapatan dari pelanggan eksternal telah mencapai lebih dari 19 persen terhadap total portofolio hingga semester I 2026.

β€œRevenue eksternal yang ada di kami sampai dengan H1 tahun 2026 itu sudah di atas 19 persen. Kami akan menjaga angka ini meskipun nanti telah ada spin-off dari aset yang tahap keduanya,” ujar Lukman Hakim dalam konferensi pers pemisahan sebagian segmen usaha wholesale fiber connectivity (Tahap 2) di Jakarta, Rabu.

Menurutnya, kontribusi pendapatan eksternal tersebut berpotensi sedikit berubah setelah tahap kedua spin-off karena aset yang dikelola InfraNexia akan semakin besar.

Di sisi lain, pertumbuhan pendapatan dari pelanggan eksternal menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan lebih dari 30 persen secara tahunan pada semester I 2026.

β€œKami harapkan pertumbuhan ini bertahan nanti sama dengan H1,” ujarnya pula.

InfraNexia saat ini masih memiliki Telkomsel sebagai salah satu anchor tenant dalam pemanfaatan infrastruktur yang dikelolanya.

Dengan bertambahnya aset pasca-spin-off, perusahaan akan berupaya meningkatkan utilisasi infrastruktur sekaligus memperluas pemanfaatannya kepada pelanggan di luar Telkom Group.

Langkah tersebut sejalan dengan agenda transformasi Telkom Group untuk mengoptimalkan aset infrastruktur dan membuka peluang pertumbuhan melalui pengelolaan bisnis yang lebih terfokus.

Di tengah proses tersebut, manajemen memastikan agenda streamlining Telkom Group tetap berjalan meski terdapat perubahan jajaran direksi.

Direktur Strategic Business Development & Portfolio Seno Soemiadji menyebut proses streamlining telah memiliki framework serta struktur organisasi yang ditetapkan, sehingga pergantian direksi tidak mengubah proses yang sedang berjalan.

β€œYang kami lakukan adalah kami sudah punya framework-nya dan framework itu artinya secara institusi, organisasi sudah kita tetapkan sehingga harusnya secara prosesnya akan tetap berjalan seolah-olah tidak ada pergantian orang,” ujar Seno.

Dalam proses streamlining tersebut, Telkom menargetkan penyederhanaan jumlah perusahaan dari 68 menjadi 18 perusahaan.

Hingga saat ini, sebanyak 24 perusahaan telah dituntaskan dalam proses tersebut, sementara sekitar 19 perusahaan ditargetkan dapat diselesaikan pada kuartal IV-2026.

Adapun tujuh perusahaan lainnya berpotensi baru diselesaikan pada 2027, karena prosesnya melibatkan aksi divestasi.

Manajemen mengatakan divestasi dilakukan dengan mempertimbangkan optimalisasi nilai sebelum perusahaan masuk dalam proses streamlining.

Sebelumnya, Telkom menyatakan lebih dari 90 persen aset infrastruktur jaringan perseroan akan dikelola oleh InfraNexia sebagai bagian dari transisi menuju model strategic holding.

Pengelolaan yang lebih terfokus tersebut diharapkan dapat meningkatkan utilisasi aset, memperluas jaringan dan kemitraan strategis, serta membuka akses infrastruktur bagi lebih banyak pelaku industri di Indonesia.