Dari percakapan tersebut, mereka mengetahui salah satu kekhawatiran terbesar penyandang tunanetra ketika berada di jalan yakni keberadaan objek yang tidak bisa terdeteksi hanya lewat tongkat.

"Dan menjawab dari permasalahan tersebut, mereka bilang kalau misalnya mereka ketakutan apabila adanya lubang ataupun misalnya objek-objek di depannya yang kadang suka tidak bisa terdeteksi oleh tongkat," katanya.

Masalah itu kemudian diterjemahkan menjadi sebuah sistem yang tidak hanya mampu mendeteksi objek di sekitar pengguna, tetapi juga melihat rintangan pada posisi yang selama ini sulit dijangkau oleh tongkat.

"Jadi akhirnya kita membuat si kamera ini bisa mendeteksi objek yang di bawah, baik lubang dan juga di atas gitu untuk misalnya ada banner atau palang agar mereka tetap aman gitu saat melakukan mobilitas di jalan," ujar Najwa.

Netravest bekerja dengan memanfaatkan kamera untuk mendeteksi objek ketika rompi dinyalakan. Informasi yang diperoleh kemudian disampaikan kepada pengguna melalui suara.

Namun, suara tersebut tidak dikeluarkan melalui earphone* biasa yang menutup telinga. Tim memilih menggunakan *bone conduction, sehingga pengguna tetap dapat mendengar suara dari lingkungan sekitar. Sistem itu kemudian diperkuat dengan umpan balik berupa getaran.

"Jadi nanti ketika dinyalakan si Netravest ini tuh akan mendeteksi objek lewat kameranya. Terus kemudian ada output audio dari earphone yang bentuknya bone conduction. Jadi yang bentuknya nggak masuk ke dalam telinga supaya mereka masih bisa mendengar suara-suara dari lingkungan sekitar," jelas Najwa.

"Sudah mendapatkan feedback audio, mereka juga akan mendapatkan feedback getaran gitu. Jadi di belakang rompi ada getarannya gitu," sambungnya.

Teknologi yang dibangun kelima mahasiswa tersebut juga tidak berhenti pada kemampuan mendeteksi rintangan. Mereka mengembangkan sistem AI pendeteksi objek berbasis YOLOv8n dengan lebih dari 30.000 dataset dan lebih dari 20 kelas objek rintangan yang dapat ditemukan di jalan.

Ada pula fitur untuk mengenali nominal mata uang rupiah. Fitur ini ditujukan agar pengguna dapat melakukan transaksi secara lebih mandiri tanpa selalu bergantung kepada orang lain ketika harus mengenali uang yang diterimanya.