Pada periode Januari-September 2026, investasi dalam negeri tercatat Rp761,4 triliun atau 49,5 persen, sedangkan investasi asing mencapai Rp777,8 triliun atau 50,5 persen.
Investasi di luar Jawa juga lebih besar, yakni Rp779,4 triliun atau 50,6 persen, dibandingkan Jawa sebesar Rp759,8 triliun atau 49,4 persen.
Rosan mengatakan hilirisasi menjadi salah satu penopang investasi. Sepanjang Januari-September 2026, investasi hilirisasi mencapai Rp480 triliun atau 31,2 persen dari total realisasi investasi, meningkat 11,3 persen.
Investasi hilirisasi terbesar berasal dari sektor mineral, termasuk nikel, bauksit, tembaga, dan pasir silika, dengan nilai Rp335,1 triliun.
Berikutnya, sektor perkebunan dan kehutanan mencapai Rp83,6 triliun, minyak dan gas bumi Rp54 triliun, serta perikanan dan kelautan Rp7,3 triliun.
Sebagian besar investasi hilirisasi masuk ke luar Pulau Jawa, yakni Rp373,1 triliun atau 78 persen. Sementara itu, investasi hilirisasi di Jawa mencapai Rp106,9 triliun atau 22 persen.
Rosan mengatakan pemerintah akan terus mendorong investasi yang dapat memperkuat industrialisasi, memperluas penyerapan tenaga kerja, serta meningkatkan transfer teknologi. Ia mencontohkan pengembangan industri baterai kendaraan listrik yang berkaitan dengan hilirisasi nikel.