NADIKABAR.COM — Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak memandang capaian dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka terkait perlindungan anak, terus mengalami perbaikan.

"Itu bisa kita lihat dari kenaikan Indeks Perlindungan Anak (IPA). Itu kan naik di tahun 2025 dibandingkan dengan IPA 2024. Ini indikasi bahwa upaya pelindungan anak mengalami perbaikan," kata Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak KemenPPPA Titi Eko Rahayu saat ditemui di Tangerang, Banten, Selasa.

IPA 2025 tercatat sebesar 72,40 atau naik 1,38 poin bila dibandingkan pada tahun 2024 yang sebesar 71,02.

IPA adalah indeks komposit nasional yang mengukur pencapaian pemenuhan hak anak dan perlindungan khusus anak di Indonesia.

"Kalau dibedah per klaster, klaster ke-5 (perlindungan khusus anak) memiliki capaian tertinggi, dari 80,12 di tahun 2024 menjadi 81,98 di tahun 2025. Ini artinya bahwa upaya melakukan perlindungan dari segala bentuk kekerasan telah membawa hasil yang cukup baik," tuturnya.

Selain itu, menurut dia, kapasitas pemerintah pusat maupun pemda saat ini semakin mumpuni dalam memberikan layanan kepada perempuan dan anak korban kekerasan.

KemenPPPA mencatat hingga Juni 2026, terdapat 5.699 anak yang memerlukan perlindungan khusus yang terlayani. Sementara untuk perempuan korban kekerasan, tercatat ada 5.406 orang yang terlayani.

"Kita bisa melihat bahwa negara, termasuk di daerah juga semakin memiliki kapasitas untuk mampu memberikan layanan kepada perempuan dan anak korban kekerasan," kata Titi Eko Rahayu.

Selain itu, keberhasilan ini juga berkat meningkatnya kesadaran masyarakat untuk berani melapor bila mengetahui atau menjadi korban kekerasan.

"Tentu ini juga ada peran masyarakat yang berani melaporkan ketika dia melihat atau bahkan menjadi korban ke kami, ke SAPA 129, ke UPTD PPA," kata Titi Eko Rahayu.