Ia menilai karakteristik responden dan ruang lingkup kelompok yang dilibatkan dalam penelitian dapat memengaruhi hasil akhir penilaian.
Karena itu, menurutnya, hasil kajian yang berbeda tidak serta-merta dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa kinerja seorang pejabat publik sepenuhnya buruk.
Dedi juga menyoroti keterlibatan "Kabinet Bayangan" dalam kajian Celios. Menurutnya, latar belakang dan orientasi kelompok yang terlibat perlu menjadi pertimbangan ketika publik membaca hasil penilaian tersebut.
Ia menilai apabila suatu kajian sejak awal lebih berorientasi pada kritik terhadap pemerintah, terdapat kemungkinan perspektif yang muncul lebih banyak menyoroti kelemahan dibandingkan capaian.
"Tentu jika tujuannya kritik, bisa dipastikan hanya melihat sisi buruk," ungkapnya.
Namun, perbedaan hasil survei dan kajian semestinya tetap dibaca secara proporsional dengan memperhatikan metode, karakteristik responden serta indikator penilaian masing-masing.
Di luar persoalan angka survei, Dedi melihat Bahlil memiliki karakter kepemimpinan yang cukup menonjol, terutama dalam menyikapi dinamika hubungan Indonesia dan Singapura.
Menurutnya, sikap Bahlil dalam merespons ketegangan kedua negara memperlihatkan keberanian politik sekaligus keberpihakan terhadap kepentingan nasional.