Dedi juga menyoroti peran Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia yang dinilainya menunjukkan keselarasan dengan arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto.

Bahlil, menurutnya, menjadi salah satu menteri yang paling memahami kehendak politik Presiden, terutama dalam menerjemahkan agenda kedaulatan energi ke dalam kebijakan konkret.

"Bahlil menunjukkan sikap yang jelas, yakni mendahulukan kedaulatan negara dibandingkan kepentingan bisnis atau investasi semata. Saya melihat Bahlil sebagai satu-satunya menteri saat ini yang paling memahami apa yang diinginkan Presiden dalam konteks keberpihakan terhadap kepentingan nasional," ujarnya.

Menurut Dedi, sikap seperti itu diperlukan dalam hubungan internasional. Sebab, posisi Indonesia sebagai negara dengan sumber daya alam yang besar harus diikuti keberanian dalam memperjuangkan kepentingannya sendiri.

"Gerakan semacam itu diperlukan agar dunia melihat bahwa Indonesia memiliki nyali dan layak diperhitungkan. Kita tidak boleh selalu menempatkan kepentingan perdagangan di atas kedaulatan negara," katanya.