NADIKABAR.COM — Kekhawatiran akan pecahnya kembali perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel mendorong Arab Saudi, Pakistan, dan Turki turun tangan. Ketiga negara mengirim utusan tingkat tinggi ke Iran untuk meredakan ketegangan. Namun, di balik upaya diplomasi tersebut, terselip pesan peringatan bagi Iran.
Kunjungan itu berlangsung di tengah kekhawatiran bahwa Amerika Serikat dan Israel tengah mempersiapkan serangan baru terhadap Iran setelah pemilu paruh waktu AS pada 3 November mendatang.
Pada Senin (26/10), Panglima Angkatan Darat Pakistan Asim Munir, Menteri Pertahanan Arab Saudi Khalid bin Salman, dan Kepala Intelijen Turki Ibrahim Kalin bertolak ke Iran untuk menemui Presiden Iran Masoud Pezeshkian beserta sejumlah pejabat tinggi negara tersebut.
Ketiganya mewakili Aliansi Pertahanan Mekkah, pakta militer yang dibentuk Arab Saudi, Pakistan, dan Turki pada pertengahan tahun ini.
Pemerintah Arab Saudi menyatakan kunjungan tersebut bertujuan membuka jalur perundingan dan mencegah kembali terjadinya eskalasi militer. Namun, rincian agenda pembicaraan belum banyak diungkap kepada publik.
Seorang pejabat senior Pakistan yang dikutip kantor berita Reuters mengatakan, pertemuan itu membahas pembentukan jaringan kesepakatan untuk mencegah agresi antarnegara di kawasan. Pembicaraan juga mencakup hubungan Amerika Serikat dan Iran, serangan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi, situasi di Selat Hormuz, serta blokade laut oleh AS.
Pejabat Pakistan lainnya mengungkapkan, Asim Munir turut menawarkan jalan keluar dari konflik yang diharapkan dapat mengakomodasi kepentingan Washington maupun Teheran.
Dalam usulan tersebut, tiga anggota Aliansi Mekkah bersama Qatar akan bertindak sebagai mediator. Menurut sumber Reuters, Presiden AS Donald Trump sebelumnya telah memberikan lampu hijau kepada Munir untuk mengupayakan penyelesaian diplomatik.
Pemerintah Iran menyambut pertemuan tersebut dengan optimisme. Iran menggambarkan pembicaraan berlangsung dalam suasana yang sangat positif, meskipun belum ada kesepakatan konkret yang diumumkan.
"Kami melakukan pembicaraan yang sangat baik," kata Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, kepada televisi pemerintah.
"Saya merasa suasana baru mulai muncul di kawasan ini," lanjutnya.
Rezaei menegaskan keamanan kawasan seharusnya dibangun oleh negara-negara Asia Barat sendiri, tanpa campur tangan pihak luar.
Sehari setelah pertemuan, Rezaei dilaporkan menemui Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei.
Menurut media pemerintah Iran, Khamenei menyerukan agar kepentingan nasional tetap dilindungi dan persyaratan yang diajukan Teheran untuk mengakhiri perang tetap dipertahankan. Hal itu juga mencakup upaya mengakhiri situasi yang disebut Iran sebagai kondisi "bukan perang, tetapi juga bukan damai."
Sementara itu, Presiden Masoud Pezeshkian melanjutkan agenda diplomatiknya dengan mengunjungi Moskow untuk menghadiri Forum Negara-Negara Pengekspor Gas.
Dalam kunjungan tersebut, ia bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin dan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani. Pertemuan dengan pemimpin Qatar antara lain membahas perang dan situasi di Selat Hormuz.
Bagi Iran, rangkaian pertemuan diplomatik tersebut menjadi bukti bahwa Amerika Serikat belum berhasil mengisolasi Iran dari hubungan internasional.
Meski dikemas sebagai misi perdamaian, kehadiran tiga pejabat tinggi Arab Saudi, Pakistan, dan Turki secara bersamaan juga dapat dibaca sebagai unjuk kekuatan Aliansi Pertahanan Mekkah.
Terlebih, Arab Saudi semakin mengkhawatirkan serangan kelompok Houthi, yang bersekutu dengan Iran, terhadap infrastruktur penting di wilayahnya.