Dalam kesepakatan Aliansi Mekkah, serangan dari pihak luar terhadap salah satu negara anggota akan dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota.
Kunjungan ke Teheran juga berlangsung pada hari yang sama ketika parlemen Mesir menyetujui pemberian bantuan militer kepada Arab Saudi. Mesir menyatakan kesiapan mengambil "semua langkah yang diperlukan" untuk membantu kerajaan tersebut mempertahankan diri.
Langkah itu menambah tekanan terhadap Iran, di tengah ancaman serangan baru dari Amerika Serikat dan Israel.
"Kehadiran tiga perwakilan senior pada saat yang bersamaan mengirimkan pesan bahwa negara-negara tersebut bertindak sebagai satu blok," kata Babak Dorbeiki, analis politik yang berbasis di London dan mantan pejabat Pusat Riset Strategis Iran, kepada DW.
Selama bertahun-tahun, Arab Saudi dikenal sebagai salah satu rival utama Iran dalam perebutan pengaruh di Timur Tengah.
Riyadh selama ini mengandalkan kekuatan ekonominya untuk membendung pengaruh Iran. Namun, melalui aliansi baru tersebut, Arab Saudi secara teori juga dapat mengandalkan kemampuan nuklir Pakistan dan kekuatan militer konvensional Turki.
Kendati demikian, Dorbeiki menilai Aliansi Mekkah pada dasarnya dibentuk untuk memperkuat daya tangkal terhadap ancaman, bukan untuk melancarkan perang.
Keberadaan pakta pertahanan itu juga tidak serta-merta berarti ketiga negara menginginkan konfrontasi langsung dengan Iran.
Menurut Dorbeiki, pesan yang dibawa aliansi tersebut dapat ditafsirkan dalam dua arah. Di satu sisi, mereka menawarkan jalur mediasi untuk mencegah konflik. Namun, jika ketegangan terus meningkat, sikap ketiga negara itu juga berpotensi berubah.
Pakistan sendiri telah berbulan-bulan menjadi perantara komunikasi antara AS dan Iran. Pakistan memiliki hubungan penting dengan kedua negara sehingga berkepentingan menjaga agar konflik tidak semakin meluas.
Perang terbuka juga berisiko mengalihkan perhatian Pakistan dari persoalan keamanan yang selama ini dihadapinya, terutama yang berkaitan dengan India.
Sementara itu, Turki merupakan anggota NATO. Namun, Dorbeiki menilai kemungkinan Turki memberikan dukungan militer langsung kepada Iran untuk menghadapi Amerika Serikat sangat kecil.
Keputusan Turki mengutus kepala intelijen Ibrahim Kalin, alih-alih menteri luar negeri atau menteri pertahanan, juga dinilai mencerminkan pendekatan Turki yang berhati-hati.
Di antara ketiga negara anggota Aliansi Mekkah, Arab Saudi menghadapi dilema paling mendesak. Serangan kelompok Houthi telah merusak infrastruktur dan mengganggu perekonomian negara tersebut. Namun, perang yang lebih luas dengan Iran juga berisiko mengancam berbagai proyek investasi dan pembangunan yang menjadi pilar utama strategi ekonomi Riyadh.
"Bagi Arab Saudi, baik situasi saat ini maupun perang dengan Iran sama-sama membawa kerugian besar," kata Dorbeiki. "Karena itu, jalur yang lebih diinginkan adalah penyelesaian diplomatik."
Sementara itu, Pakistan telah berbulan-bulan berperan sebagai mediator antara AS dan Iran. Pakistan memiliki hubungan penting dengan kedua negara sehingga berkepentingan mencegah konflik semakin meluas.
Perang terbuka juga berpotensi mengalihkan perhatian Pakistan dari persoalan keamanan yang selama ini dihadapinya, terutama ketegangan dengan India.
Adapun Turki, meski merupakan anggota NATO, dinilai kecil kemungkinannya memberikan dukungan militer langsung kepada Iran untuk menghadapi Amerika Serikat.
Menurut Dorbeiki, keputusan Turki mengutus Kepala Intelijen Ibrahim Kalin, alih-alih menteri luar negeri atau menteri pertahanan, juga menunjukkan pendekatan Turki yang berhati-hati dalam menghadapi ketegangan di kawasan.