Pemerintah Iran menolak anggapan bahwa kedatangan para utusan Aliansi Mekkah merupakan ultimatum menjelang kemungkinan serangan militer.

Penasihat media Presiden Iran, Ali Asghar Shafieian, mengatakan kepada DW bahwa kunjungan tersebut juga dapat dimaknai sebagai upaya ketiga negara menunjukkan semakin eratnya koordinasi mereka.

Di sisi lain, pertemuan itu sekaligus menegaskan bahwa Iran masih menjadi bagian dari proses diplomasi kawasan.

"Kita tidak bisa menyimpulkan hanya dari pertemuan ini bahwa kunjungan tersebut merupakan ultimatum sebelum serangan dilancarkan," kata Shafieian.

Ia juga mengingatkan bahwa langkah diplomatik tidak berarti Iran mengabaikan kemungkinan pecahnya kembali perang.

Menurutnya, sebagaimana Amerika Serikat dan Israel, Iran juga dapat memperkuat kesiapan militernya sembari terus membuka ruang perundingan.

"Sebagaimana mereka memanfaatkan kesempatan untuk memperkuat kemampuan militer dan pertahanan mereka, Iran juga melakukan hal yang sama," ujarnya.

Shafieian menambahkan, kesepakatan damai masih mungkin dicapai sepanjang posisi politik Iran dan apa yang disebut Teheran sebagai martabat nasionalnya tetap dihormati.

Di tengah berbagai upaya diplomasi tersebut, Dorbeiki menilai Iran masih menjalankan strategi yang selama ini kerap digunakannya, yakni memperpanjang proses negosiasi tanpa segera memberikan komitmen nyata.

Salah satu persoalan utama yang membayangi pembicaraan adalah aktivitas kelompok Houthi di Yaman.

Hingga kini, Iran belum secara terbuka memberikan jaminan mengenai penghentian serangan Houthi seperti yang diharapkan Arab Saudi.

Menurut Dorbeiki, Iran kemungkinan berupaya memanfaatkan pengaruhnya terhadap kelompok tersebut sebagai alat tawar dalam perundingan.

Pengaruh itu dapat digunakan untuk memperoleh konsesi, termasuk penghentian tekanan militer Amerika Serikat maupun langkah-langkah lebih luas untuk mengakhiri perang.

Untuk saat ini, satu-satunya hasil yang terlihat dari pertemuan di Teheran adalah kesediaan semua pihak untuk melanjutkan pembicaraan.

Belum ada terobosan diplomatik ataupun jaminan bahwa ketegangan militer akan mereda.

Namun, bagi Iran, tetap terbukanya jalur komunikasi dengan negara-negara kawasan mungkin sudah cukup untuk menunjukkan bahwa Iran masih dipandang sebagai mitra diplomasi, bukan semata-mata sebagai musuh.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Ausirio Sangga Ndolu