NADIKABAR.COM — Iran menyatakan komunikasi dengan Amerika Serikat (AS) untuk mengakhiri perang masih berlangsung, meski perundingan melalui mediator Qatar belum menghasilkan terobosan. Di tengah ketegangan militer, Teheran juga membuka pembicaraan dengan Arab Saudi untuk membentuk pengaturan keamanan regional tanpa keterlibatan militer asing.

Sementara itu, perusahaan minyak Arab Saudi, Saudi Aramco, menjajaki jalur ekspor tambahan untuk mengantisipasi gangguan pasokan energi akibat konflik.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan konsultasi melalui mediator berlangsung intensif. Namun, ia menegaskan keberhasilan perundingan bergantung pada sikap Washington.

"Kami telah menyampaikan persyaratan dan proposal kami, dan semuanya bergantung pada rasionalitas politik Washington," kata Araghchi, Senin (2/11), seperti dikutip media pemerintah Iran, IRNA.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan proposal tujuh langkah yang diajukan Teheran pada September masih menjadi dasar pembicaraan. Proposal tersebut kini telah dipersingkat agar dapat diterapkan dalam waktu dua hari.

Rencana itu mencakup penghentian blokade AS terhadap pelabuhan Iran, pembukaan kembali Selat Hormuz, pencabutan pembatasan penjualan minyak Iran, serta pembatalan sanksi baru terhadap Teheran. Setelah itu, kedua negara diharapkan membahas persoalan lainnya.

Namun, Iran menegaskan pembicaraan mengenai program nuklir hanya dapat dimulai setelah seluruh persyaratannya dipenuhi. Baghaei juga membantah adanya pembahasan mengenai kemungkinan pemindahan persediaan uranium yang telah diperkaya tinggi ke negara lain.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya menolak proposal tujuh langkah tersebut pada September. Pada Senin, Trump mengatakan Iran ingin mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang. Menurutnya, kesepakatan tersebut "bisa saja terjadi".

Di tengah negosiasi dengan Washington, Iran juga melanjutkan pembicaraan dengan Arab Saudi untuk membentuk pengaturan keamanan baru di kawasan.