NADIKABAR.COM — Iran memperingatkan akan adanya dampak ekonomi yang "menghancurkan" jika Israel melancarkan serangan baru terhadap Teheran. Peringatan ini disampaikan saat Tel Aviv masih melakukan penghitungan suara usai pemilu legislatif pada 27 Oktober, yang dapat menentukan masa depan perang regional tersebut.
Otoritas Iran, seperti dilansir AFP, Kamis (29/10/2026), juga mengungkapkan bahwa pihaknya sedang berdiskusi dengan para mediator, seperti Qatar dan Pakistan, membahas cara-cara untuk menerapkan rencana gencatan senjata guna mengakhiri konflik dan membuka kembali Selat Hormuz, yang strategis bagi pasokan minyak dan gas global.
Di bawah kepemimpinan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu, yang bersumpah untuk menggulingkan rezim Iran, kedua negara untuk pertama kalinya dalam sejarah terlibat perang langsung, setelah bermusuhan selama beberapa dekade.
Pemilu krusial pada Selasa (27/10) memberikan kesempatan bagi rakyat Israel untuk memberikan penilaian terhadap pemerintahan sayap kanan Netanyahu, saat ancaman semakin meningkat dari Israel dan Amerika Serikat (AS) untuk kembali menyerang Iran, setelah perang berkecamuk pada akhir Februari.
"Dampak yang menghancurkan terhadap pasar internasional, yang mungkin timbul akibat petualangan militer yang dipicu oleh Israel di kawasan Teluk Persia, tetap menjadi kekhawatiran utama, baik bagi pemasok maupun konsumen gas," kata Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran, Abbas Araghchi, dalam pernyataan via media sosial X.
Pernyataan itu merujuk pada diskusi yang berlangsung di sela-sela pertemuan puncak Forum Negara-negara Pengekspor Gas di Moskow, ibu kota Rusia, baru-baru ini.