Sejak perang pecah, pengiriman pasokan energi dari negara-negara Teluk sangat terganggu, usai Iran memblokade Selat Hormuz yang dilalui seperlima pasokan minyak dan gas cair dunia sebelum perang. Teheran membatasi akses pelayaran dan kerap menyerang kapal-kapal yang mencoba melintas tanpa izin mereka.
Sebagai balasan, AS menerapkan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, dengan tujuan menekan perekonomian negara tersebut.
Pada Rabu (29/10), media terkemuka AS Wall Street Journal (WSJ) melaporkan bahwa AS telah meminta sejumlah negara Teluk Arab untuk bersiap menghadapi kemungkinan "operasi militer singkat namun intens" terhadap Iran, yang diperkirakan akan dilancarkan setelah pemilu sela pada 3 November mendatang.
Namun, menurut WSJ yang mengutip sumber-sumber yang mengetahui pembahasan di Washington, Presiden AS Donald Trump belum mengambil keputusan akhir.
Iran Diskusi dengan Mediator untuk Akhiri Perang-Buka Selat Hormuz
Araghchi, dalam pernyataannya pada Rabu (28/10), mengatakan bahwa Iran sedang mendiskusikan sebuah rencana, dengan para mediator, untuk mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz.