Siti Ma’rifah menjelaskan peran perempuan dalam membangun perdamaian dimulai dari lingkungan keluarga, pendidikan, komunitas, hingga pengambilan keputusan di tingkat global. Penanaman nilai toleransi, empati, dan antikekerasan sejak dini dinilai menjadi bagian penting dalam membangun generasi yang menjunjung perdamaian.
Namun, keterlibatan perempuan dalam proses negosiasi dan pengambilan keputusan perdamaian masih perlu diperkuat. Karena itu, ia mendorong peningkatan partisipasi perempuan agar tidak hanya menjadi pihak yang terdampak konflik, tetapi juga terlibat aktif dalam merumuskan solusi.
“Perdamaian global tidak akan pernah tercapai jika perempuan hanya dijadikan penonton. Kita perlu mendorong penguatan keterlibatan perempuan, termasuk dalam penetapan kuota kebijakan minimal 30 persen keterlibatan perempuan dalam proses-proses perdamaian dunia,” katanya.
Dalam konteks Palestina, Siti Ma’rifah mengajak perempuan Indonesia memperluas kepedulian kemanusiaan dengan memberikan perhatian terhadap nasib perempuan dan anak-anak yang terdampak konflik.