NADIKABAR.COM — Islamic Dakwah Fund (IsDF) Majelis Ulama Indonesia (MUI) menekankan pentingnya membangun kemitraan dan komitmen bersama dalam memperkuat gerakan solidaritas kemanusiaan untuk Palestina.

“Kita tidak dapat bekerja sendiri. Kita membutuhkan kemitraan, kepercayaan dan komitmen bersama. Sebab, gerakan yang kuat bukanlah gerakan yang dikerjakan oleh satu lembaga, melainkan gerakan yang mampu menyatukan banyak pihak dalam satu tujuan,” ujar Ketua IsDF-MUI Trisna Ningsih Yuliati di Jakarta, Rabu.

Pernyataan Trisna ini disampaikan dalam Forum Perempuan Iman dan Kebebasan bertema “Perempuan, Kemanusiaan dan Solidaritas Global untuk Palestina” di Gedung MUI, Jakarta. Forum tersebut digelar bekerja sama dengan Komisi Perempuan, Remaja, dan Keluarga (KPRK) MUI.

Kegiatan ini menghadirkan pimpinan MUI, aktivis kemanusiaan, serta penggerak solidaritas internasional untuk membahas perspektif Islam, keadilan kemanusiaan, dan kontribusi perempuan dalam mendukung perjuangan rakyat Palestina.

Trisna menjelaskan organisasi perempuan, lembaga filantropi, badan zakat, dan jaringan internasional merupakan bagian dari potensi yang dapat diperkuat melalui kolaborasi.

Sinergi antara dakwah, filantropi dan aksi kemanusiaan diharapkan dapat mendorong pelaksanaan program yang tepat sasaran, berkelanjutan, serta dikelola secara transparan dan akuntabel.

Trisna berharap forum ini dapat menghasilkan jejaring dan komitmen yang terus berlanjut setelah kegiatan selesai, sehingga solidaritas untuk Palestina tidak berhenti pada pernyataan dukungan maupun dokumentasi kegiatan.

“Jangan sampai setelah forum ini selesai, yang tertinggal hanya dokumentasi kegiatan. Biarlah yang tertinggal adalah jejaring yang semakin kuat, komitmen yang semakin nyata, dan aksi kemanusiaan yang benar-benar dirasakan manfaatnya,” kata Trisna.

Ketua MUI Bidang Perempuan, Remaja, dan Keluarga (PRK), Siti Ma’rifah menegaskan perempuan bukan sekadar pelengkap dalam upaya mewujudkan perdamaian, melainkan memiliki peran strategis sebagai pendidik, mediator, penggerak, sekaligus pemimpin.

“Peran strategis perempuan dalam membangun solidaritas kemanusiaan dan perdamaian global bukan hanya pelengkap, tetapi merupakan kekuatan utama perdamaian. Karena ibu adalah sebagai pendidik, mediator, penggerak, sekaligus pemimpin,” ujarnya.

Siti Ma’rifah menjelaskan peran perempuan dalam membangun perdamaian dimulai dari lingkungan keluarga, pendidikan, komunitas, hingga pengambilan keputusan di tingkat global. Penanaman nilai toleransi, empati, dan antikekerasan sejak dini dinilai menjadi bagian penting dalam membangun generasi yang menjunjung perdamaian.

Namun, keterlibatan perempuan dalam proses negosiasi dan pengambilan keputusan perdamaian masih perlu diperkuat. Karena itu, ia mendorong peningkatan partisipasi perempuan agar tidak hanya menjadi pihak yang terdampak konflik, tetapi juga terlibat aktif dalam merumuskan solusi.

“Perdamaian global tidak akan pernah tercapai jika perempuan hanya dijadikan penonton. Kita perlu mendorong penguatan keterlibatan perempuan, termasuk dalam penetapan kuota kebijakan minimal 30 persen keterlibatan perempuan dalam proses-proses perdamaian dunia,” katanya.

Dalam konteks Palestina, Siti Ma’rifah mengajak perempuan Indonesia memperluas kepedulian kemanusiaan dengan memberikan perhatian terhadap nasib perempuan dan anak-anak yang terdampak konflik.