Insiden ini terjadi kurang dari dua minggu setelah serangan di dalam penerbangan flydubai dari Dubai ke Tel Aviv di mana seorang pilot asal Oman menikam kopilotnya dalam upaya menabrakkan pesawat ke Bandara Ben Gurion. Aksi itu digagalkan oleh intervensi beberapa penumpang.
Usai insiden tersebut, ratusan awak pesawat dari negara-negara yang dianggap musuh telah terbang ke Israel. Israel menganggap hal itu menimbulkan risiko keamanan yang besar.
Channel 12 melaporkan intelijen Israel melaporkan kewarganegaraan pilot tersebut kepada otoritas bandara. Laporan itu menjadi dasar pejabat keamanan dan Kementerian Transportasi melarang penerbangan tersebut mendarat. Pesawat itu kembali ke Addis Ababa.
Pilotnya kemudian diganti, sebelum berangkat lagi dan mendarat di Tel Aviv. Ethiopian Airlines menggambarkan insiden tersebut sebagai sebuah kesalahan, dengan mengatakan bahwa mereka tidak menyadari bahwa pilotnya dilarang mengoperasikan penerbangan ke Israel.
Channel 12 juga melaporkan otoritas Israel telah menginstruksikan maskapai penerbangan asing untuk tidak menugaskan awak kapal dari negara yang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel untuk penerbangan menuju negara tersebut. Pembatasan itu mencakup warga negara Afghanistan, Aljazair, Indonesia, Iran, Irak, Kuwait, Niger, Qatar, Arab Saudi, Somalia, dan Venezuela.
Setelah serangan flydubai, Kementerian Transportasi Israel dilaporkan memperketat aturan bagi maskapai asing yang terbang ke Israel. Selama ini, pilot dan awak pesawat yang berkewarganegaraan negara-negara seperti Iran, Irak, Lebanon, dan Pakistan dapat dengan mudah terbang ke Israel.