Sementara itu, KVMM FSRD ITB, Riama Maslan Sihombing menuturkan, pemilihan tempat di kawasan Sawunggaling tidak terlepas dari kisah Suyadi semasa muda dulu.
"Ini berawal dari Pak Pirous waktu itu bersama-sama dengan kami melihat pameran 5 Dekade di Galeri Soemardja. Lalu kami bertanya kepada Beliau tentang pengalaman bersama Pak Suyadi. Lalu di situ malah ketahuan bahwa Pak Suyadi itu pernah tinggal di Sawunggaling. Jadi waktu hari Minggu dia suka mendalang. Suaranya tuh bagus dan besar sekali sehingga menarik perhatian orang-orang di jalan di Tamansari. Nah, itu sebabnya kami ingin sekali mengenang Beliau di tempat yang sama, puluh-puluh tahun kemudian kami mengenang Beliau sebagai pencerita, pendalang, animator, pendongeng, juga pendidik dan dia juga adalah seorang ilustrator buku anak-anak," tuturnya.
Tak mudah untuk menggelar pameran ini. Dibutuhkan waktu tiga tahun untuk mengumpulkan karya Suyadi dan persiapan lainnya.
"Persiapannya tuh sebenarnya cukup lama, karena kami tahun 2023 itu pernah membuat pameran juga di Galeri Soemardja. Jadi dari situ kami selalu mengumpulkan karya-karya Beliau dan kami mendapatkan dana dari LPDP, Dana Indonesiana, dan sekitar 6 bulan kami mempersiapkan pameran ini. Termasuk bertemu dengan keluarga, meminta izin, mengumpulkan komunitas yang bisa bergerak bersama-sama," tuturnya.
Meski digelar oleh ITB, tim pameran ini didukung banyak pihak di luar ITB dan pameran ini terbuka untuk umum.
"Silakan. Kami tuh senang sekali jika semua, justru generasi muda yang belum mengenal Pak Suyadikalau kita kan sebenarnya masih ada kenangan Si Unyil, yamereka juga bisa bisa mengenal kembali sosok Pak Suyadi sebagai Pak Raden, dan juga sebagai pendongeng dan sebagai budayawan, ya. Yang pokoknya dia tuh sebenarnya multitalenta sekali," pungkasnya.