Arief menyebut pihaknya akan terus memberikan pendampingan kepada Keisha. "Semua anak kalau ada permasalahan kuliah, tentu akan kami tangani, kami beri pendampingan. Tapi saya sudah bertemu, kemarin lusa bertemu, kita tanya betul-betul," tuturnya.

"Mungkin itu ada masalah yang terlalu dibesar-besarkan di masyarakat. Jadi adiknya sih sebenarnya udah enggak ada masalah apa-apa, dan dia berkuliah seperti biasa," tambahnya.

Terkait permasalahan keluarga yang dialami Keisha, pihaknya akan memberikan pendampingan. "Oh tentu, tentu. Jadi kami punya banyak sekali mahasiswa yang ada permasalahan dengan keluarga, baik secara ekonomi, secara hubungan, dan seterusnya. Tentu sekarang menjadi mahasiswa kami, tentu akan kami berikan pendampingan. Jadi kami akan bantuan, kuliahnya kalau kurang kami berikan KIP-K Pemerintah dan seterusnya. Jadi kami akan lakukan semacam itu," tuturnya.

"Jadi enggak ada masalah. Ini kan situasinya memang sekarang ini seolah-olah lebih ramai di media daripada kenyataannya, tapi sebetulnya tidak," pungkasnya.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memberikan klarifikasi terkait informasi viral mengenai seorang mahasiswa baru Universitas Padjadjaran (Unpad) bernama Keisha. Mahasiswi Program Studi Sarjana Terapan Administrasi Pemerintahan tersebut sebelumnya menjadi sorotan setelah menceritakan kisah pribadinya secara terbuka kepada Dedi dalam acara Penerimaan Raya Mahasiswa Baru (Prabu) 2026 pada awal Agustus lalu.

Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM, menegaskan bahwa kondisi Keisha saat ini dalam keadaan baik. Ia membantah keras kabar yang menyebutkan bahwa mahasiswi tersebut enggan melanjutkan kuliah karena merasa malu atau tertekan.

"Saya ingin menyampaikan ya, bahwa berita, informasi, narasi yang mengatakan Keisha, mahasiswa Unpad jurusan ilmu pemerintahan yang bertemu dengan saya pada saat maba dan melakukan oversharing dalam keadaan sakit, malas kuliah gara-gara ucapan saya yang dianggap merendahkan jurusan yang dia tekuni, itu adalah berita yang tidak benar," kata KDM dalam video yang diunggah melalui akun Instagram @dedimulyadi71, Kamis (20/8/2026).

"Keisha sekarang masih kuliah dalam keadaan baik," tambahnya.

Pelarian K (22), terduga pelaku KDRT sadis di Padaherang, Kabupaten Pangandaran, berakhir di tangan polisi. Pria ini diciduk jajaran Satreskrim Polsek Padaherang setelah sempat dilarikan ke klinik karena mencoba mengakhiri hidup.

K sebelumnya harus menjalani perawatan medis di Klinik Puspa Kalipucang. Ia dikabarkan nekat menelan racun tikus tak lama setelah diduga menganiaya istrinya sendiri, TN (21). Insiden berdarah ini terjadi pada Rabu (19/8/2026) subuh, sekitar pukul 04.00 WIB.

Plt. Humas Polres Pangandaran, Aiptu Yusdiana, membenarkan penangkapan tersebut. Saat ini, K sudah diamankan pihak kepolisian untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

"Kejadian pada hari Rabu (19/8/2026) sekitar pukul 04.00 WIB. Sekarang, terduga pelaku sudah kami amankan," ujar Yusdiana kepada sejumlah wartawan di Mapolres Pangandaran, Kamis (20/8/2026) siang.

Informasi yang dihimpun di lapangan, prahara rumah tangga ini dipicu oleh cekcok hebat. Dalam kondisi gelap mata, K diduga tega menghantam kepala istrinya menggunakan palu.

Usai melakukan aksi kekerasan tersebut, K diduga panik dan mencoba bunuh diri dengan meminum racun tikus. Beruntung nyawanya masih tertolong setelah sempat ditangani tim medis di Klinik Puspa Kalipucang sebelum akhirnya digelandang petugas.

Di sisi lain, keluarga korban bergerak cepat dengan melaporkan kejadian ini ke Polsek Padaherang. Korban TN sendiri sempat dievakuasi ke Puskesmas Sindangwangi dan sebuah klinik di Desa Maruyungsari untuk pertolongan pertama.

Namun, karena luka yang diderita cukup serius dan membutuhkan penanganan spesialis, korban akhirnya dirujuk ke fasilitas kesehatan di wilayah Sidareja, Kabupaten Cilacap.

"Untuk kondisi korban sekarang masih dalam penanganan medis," kata Yusdiana.

Hingga saat ini, polisi masih mendalami kasus tersebut dengan memeriksa sejumlah saksi dan melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP). Polsek Padaherang terus bekerja untuk mengungkap motif utuh di balik aksi kekerasan pasangan muda yang telah dikaruniai satu anak perempuan ini.

Kepala Desa Bojongsari, Yaya Sutiawan, mengungkapkan bahwa sebelum insiden berdarah itu terjadi, pasutri tersebut memang terlibat pertengkaran mulut yang cukup panas.

"Awalnya cekcok. Mungkin sesaat sebelum kejadian suasananya agak panas. Kemudian cekcok itu dibuntuti tindakan kekerasan," ujar Yaya.

Yaya menduga, faktor ekonomi dan api cemburu menjadi pemantik utama konflik di rumah tangga warganya itu. Meski begitu, ia menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada pihak kepolisian untuk mengungkap pemicu pastinya.

"Awalnya cekcok. Mungkin sesaat sebelum kejadian suasananya agak panas. Kemudian cekcok itu dibuntuti tindakan kekerasan," ujar Yaya.