NADIKABAR.COM — tahun bekerja di industri perhotelan Indonesia, saya sering bertanya-tanya mengapa Jakarta, sebuah kota dengan budaya, sejarah, kreativitas, dan energi yang begitu luar biasa, belum sepenuhnya menempatkan dirinya sebagai salah satu destinasi wisata perkotaan terbesar di dunia.

Jakarta adalah salah satu kota terbesar dan paling dinamis di Asia. Kota ini merupakan pusat ekonomi, bisnis, inovasi, dan kewirausahaan Indonesia. Namun, bagi banyak wisatawan internasional, Jakarta masih lebih sering menjadi tempat persinggahan sebelum melanjutkan perjalanan ke destinasi lain, bukan kota yang secara khusus mereka pilih untuk dikunjungi.

Padahal, jika kita melihat kota seperti Manchester, ada satu hal yang menarik. Manchester juga tidak dikenal dunia karena satu landmark tunggal. Daya tariknya terbentuk dari banyak hal yang kemudian menjadi satu identitas: sejarah industri, musik, sepak bola, universitas, kreativitas, kuliner, bisnis, dan kehidupan kota.

Jakarta sebenarnya memiliki sesuatu yang tidak kalah kuat. Kota Tua dan Sunda Kelapa menyimpan sejarah panjang Batavia. Glodok memperlihatkan keberagaman budaya dan kuliner. Blok M dan berbagai ruang kreatifnya merepresentasikan energi generasi baru. Musik, sepak bola, seni, kuliner, dan kehidupan malam terus membentuk Jakarta yang modern.

Jadi, Jakarta bukan kekurangan cerita.

Yang mungkin masih kurang adalah bagaimana cerita-cerita tersebut disatukan menjadi sebuah identitas kota yang mudah dipahami, dialami, dan diingat oleh dunia.

Manchester memberikan contoh inspiratif tentang bagaimana sebuah kota dapat mengubah cara dunia melihatnya. Dahulu, Manchester merupakan salah satu jantung Revolusi Industri. Ketika struktur ekonominya berubah, kota ini menghadapi tantangan untuk menemukan kembali perannya dan membangun identitas baru.

Manchester tidak mencoba menghapus masa lalunya. Sebaliknya, kota ini menjadikan sejarahnya sebagai fondasi untuk masa depan.

Hari ini, Manchester dikenal melalui musik, sepak bola, universitas, budaya, kreativitas, bisnis, dan hospitality. Musik melahirkan nama-nama besar seperti Oasis, The Smiths, dan Joy Division. Manchester United dan Manchester City menjadikan sepak bola sebagai bagian dari identitas global kota. Kawasan seperti Northern Quarter mempertemukan seni, musik, independent shops, kafe, dan kreativitas anak muda.

Manchester tidak menjual satu atraksi. Manchester menjual pengalaman tentang Manchester. Di sinilah saya melihat kemiripan yang menarik dengan Jakarta. Kita juga memiliki kota yang dibentuk oleh banyak lapisan.

Bedanya, lapisan Jakarta jauh lebih beragam, dari sejarah Batavia dan perdagangan di Sunda Kelapa hingga budaya Betawi, pengaruh Tionghoa, kehidupan metropolitan, musik, kuliner, olahraga, dan kreativitas generasi baru.

Tantangannya bukan menemukan sesuatu yang belum ada. Tantangannya adalah menghubungkan apa yang sudah ada.

Transformasi Manchester juga menunjukkan pentingnya kepemimpinan. Andy Burnham menjadi contoh menarik mengenai bagaimana identitas sebuah kota dan wilayah dapat diperjuangkan secara konsisten.

Sebagai Wali Kota Greater Manchester, ia membangun agenda yang menempatkan kepentingan kota dan wilayahnya sebagai bagian penting dari percakapan nasional. Perjalanannya kemudian membawanya ke tingkat nasional sebagai Perdana Menteri Inggris.

Namun, pelajaran yang lebih penting bukan sekadar perjalanan politiknya. Yang menarik adalah bagaimana seorang pemimpin dapat membantu menyatukan berbagai pihak di sekitar sebuah visi tentang masa depan kota.

Transformasi kota membutuhkan lebih dari sekadar pembangunan fisik. Dibutuhkan keberanian untuk menentukan apa yang ingin menjadi identitas kota tersebut, kemudian membangun ekosistem yang memungkinkan pemerintah, bisnis, komunitas, dan masyarakat bergerak ke arah yang sama.

Ketika sebuah kota memiliki visi yang jelas, masyarakatnya mulai memiliki alasan untuk bangga. Dan ketika masyarakat mulai percaya pada kotanya, dunia pun lebih mudah melihat potensi yang sama.

Jika Manchester memiliki sejarah, musik, sepak bola, dan kreativitas sebagai bagian dari kekuatan identitasnya, Jakarta memiliki sesuatu yang jauh lebih sulit untuk ditiru: manusia dan keberagaman budayanya.