Jakarta memiliki chef, musisi, seniman, desainer, operator hotel, pengusaha, dan entrepreneur muda yang ingin menciptakan pengalaman kelas dunia. Energi itu sudah ada. Tantangannya adalah menciptakan ekosistem yang memungkinkan energi tersebut berkembang.
Jakarta memiliki peluang besar untuk membangun identitas urban tourism yang lebih kuat, terutama karena kota ini sedang memasuki fase penting dalam perjalanan sejarahnya.
Kawasan seperti Kota Tua memiliki potensi untuk menjadi salah satu kawasan warisan budaya paling menarik di Asia. Namun, masa depan Kota Tua tidak harus berhenti pada pelestarian bangunan dan museum.
Kawasan tersebut dapat menjadi pintu masuk menuju pengalaman Jakarta yang lebih luas, menghubungkan sejarah dengan kuliner, kreativitas, seni, dan kehidupan masyarakat.
Dari Kota Tua, wisatawan dapat menemukan Glodok dan keberagaman budaya Jakarta. Dari sana, mereka dapat bergerak menuju pusat kota dan kemudian menemukan wajah Jakarta yang lebih modern melalui kawasan seperti Blok M dan berbagai ruang kreatifnya.
Di tempat lain, Jakarta dapat terus mengembangkan pengalaman yang berbeda melalui kuliner, fesyen, seni, musik, olahraga, dan kehidupan malam. Inilah yang membuat konsep urban tourism menarik. Wisatawan tidak datang hanya untuk melihat satu landmark. Mereka datang untuk merasakan bagaimana sebuah kota hidup.
Transformasi seperti ini membutuhkan lebih dari sekadar proyek individu. Dibutuhkan visi bersama tim redaksi pemerintah, komunitas, pelaku usaha, industri hospitality, transportasi, maskapai, industri kreatif, dan masyarakat. Yang terpenting, dibutuhkan keyakinan bahwa Jakarta memiliki cerita yang layak diceritakan.
Pariwisata bukan hanya tentang menarik wisatawan. Pariwisata adalah tentang menciptakan peluang bagi entrepreneur, mendukung komunitas lokal, membuka lapangan kerja, menghidupkan kembali kawasan kota, dan membangun kebanggaan masyarakat terhadap tempat yang mereka sebut rumah.
Inilah alasan mengapa transformasi kota seharusnya tidak hanya diukur dari jumlah wisatawan yang datang.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah masyarakatnya merasa bangga terhadap kotanya? Apakah anak muda melihat peluang untuk membangun masa depan di sana? Apakah kawasan lama dapat kembali hidup? Apakah pelaku usaha lokal mendapatkan manfaat? Dan apakah pengunjung pulang dengan cerita yang ingin mereka bagikan?
Manchester menunjukkan bahwa identitas kota dapat menjadi aset ekonomi sekaligus sumber kebanggaan masyarakat. Jakarta memiliki kesempatan yang sama.
Jakarta tidak perlu menjadi Manchester. Manchester tidak menjadi destinasi global karena mencoba menjadi kota lain. Kota itu menemukan kekuatannya sendiri, kemudian membangun kepercayaan diri untuk menceritakannya kepada dunia. Jakarta juga tidak perlu menciptakan identitas yang sepenuhnya baru.
Cerita itu sudah ada. Sejarah ada di Kota Tua dan Sunda Kelapa. Keberagaman budaya hidup di Glodok. Kreativitas tumbuh di berbagai ruang kota. Musik terus berkembang. Blok M memiliki energinya sendiri.
Sepak bola memiliki basis penggemar yang kuat. Kuliner Jakarta terus berkembang dari warung hingga restoran berkelas dunia. Dan di balik semuanya, ada masyarakat yang membuat kota ini hidup.
Tugas kita bukan menciptakan cerita baru, melainkan menghubungkan cerita-cerita yang sudah ada. Manchester menemukan momennya ketika kota itu mulai percaya pada kekuatan ceritanya sendiri. Mungkin sekarang adalah waktunya bagi Jakarta untuk menemukan momennya. Karena ketika sebuah kota mulai percaya pada dirinya sendiri, dunia akan mulai melihatnya dengan cara yang berbeda.
CEO Archipelago Hotels, berpengalaman selama puluhan tahun di industri hospitality Indonesia.
Opini ini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.