Keunggulan terbesar Jakarta adalah kehangatan dan keramahan alami masyarakat Indonesia.
Orang Indonesia secara alami membuat pengunjung merasa diterima. Hal ini bukan sesuatu yang sepenuhnya dapat diciptakan melalui pelatihan atau ditulis dalam buku panduan pelayanan. Keramahan berasal dari budaya dan cara masyarakat berinteraksi.
Jakarta sendiri merupakan hasil dari pertemuan berbagai budaya. Betawi, Jawa, Tionghoa, Arab, Eropa, dan berbagai budaya dari seluruh Nusantara telah ikut membentuk karakter kota ini.
Hotel dapat dibangun. Atraksi dapat dikembangkan. Infrastruktur dapat diperbaiki. Namun, kehangatan manusia yang membuat seseorang merasa diterima jauh lebih sulit untuk diciptakan.
Karena itu, keramahan seharusnya tidak hanya menjadi bagian dari pelayanan hotel. Keramahan harus menjadi bagian dari pengalaman seseorang ketika berada di Jakarta.
Kuliner juga dapat menjadi salah satu cara paling kuat untuk membangun identitas sebuah kota. Indonesia memiliki kekayaan kuliner yang luar biasa dan Jakarta menjadi tempat bertemunya berbagai tradisi makanan dari seluruh Nusantara.
Restoran seperti August menunjukkan bahwa bahan-bahan lokal Indonesia, cita rasa Nusantara, dan tradisi kuliner dapat disajikan dengan kreativitas, kecanggihan, dan standar internasional.
Namun, kekuatan kuliner Jakarta tidak hanya berada di restoran kelas atas. Ada pasar, warung, kedai kopi, street food, dan kawasan kuliner yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Semua itu merupakan pengalaman Jakarta.
Kota-kota besar di dunia memahami bahwa makanan dapat menjadi bagian dari identitas mereka. Jakarta memiliki kesempatan yang sama, tetapi tidak perlu meniru Paris, Tokyo, Singapura, atau kota lainnya. Jakarta dapat menciptakan identitas kulinernya sendiri.
Transformasi Manchester tidak hanya terjadi melalui proyek infrastruktur besar. Banyak perubahan datang dari bagaimana berbagai bagian kota dibuat lebih mudah diakses, dihubungkan, dan dialami sebagai satu kesatuan.
Jakarta telah membuat kemajuan penting. Sistem transportasi publik terus berkembang, dan inisiatif seperti Jakarta Tourist Pass menunjukkan pemahaman bahwa wisatawan membutuhkan cara yang lebih mudah untuk menikmati kota.
Tetapi masih ada peluang untuk membuat pengalaman tersebut lebih sederhana.
Bayangkan seorang wisatawan memulai paginya di Kota Tua dan Sunda Kelapa, mengenal sejarah Batavia dan perdagangan maritim Jakarta. Dari sana, ia dapat melanjutkan perjalanan ke Glodok, menikmati kuliner sekaligus melihat keberagaman budaya kota.
Sore harinya, ia dapat menemukan Jakarta yang lebih muda di Blok M, menikmati kafe, musik, kuliner, fesyen, seni, dan ruang kreatif. Pada kesempatan lain, pengalaman tersebut dapat berlanjut ke sepak bola. Di sana, wisatawan tidak hanya melihat sebuah pertandingan, tetapi juga merasakan salah satu bentuk passion masyarakat Jakarta.
Semua pengalaman itu sebenarnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah membuatnya terasa seperti satu perjalanan.
Itulah perbedaan tim redaksi menjual daftar tempat wisata dan menjual pengalaman sebuah kota. Bayangkan pula sebuah Jakarta Tourist Pass yang memungkinkan wisatawan menggunakan berbagai moda transportasi sekaligus mendapatkan akses ke museum, atraksi, acara budaya, dan pengalaman kuliner.Kota yang menarik harus pula menjadi kota yang mudah dijelajahi.
Peran pemerintah dalam proses ini juga tidak seharusnya berhenti pada regulasi dan perizinan. Pemerintah perlu menciptakan lingkungan yang memungkinkan pelaku usaha dan komunitas berkembang, mempertemukan berbagai inisiatif, dan membuat pengalaman kota semakin mudah diakses.