Data U.S. Energy Information Administration menunjukkan bahwa pada 2024 sekitar 20 juta barel minyak per hari melewati Selat Hormuz, setara dengan sekitar seperlima konsumsi petroleum liquids dunia, sementara sekitar seperlima perdagangan LNG global juga melewati jalur tersebut.

Posisi geografis itu memberikan Iran strategic leverage yang sangat besar, sekaligus menciptakan keterbatasan karena setiap gangguan terhadap Hormuz membawa konsekuensi ekonomi bagi Iran, negara-negara Teluk, Asia, dan pasar energi internasional.

Data terbaru Reuters menunjukkan bahwa ekspor minyak negara-negara Teluk di luar Iran telah pulih hingga rata-rata sekitar 19,2 juta barel per hari pada September, sekitar 81 persen dari tingkat sebelum perang, sementara ekspor Iran turun hingga nol akibat blokade AS.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa strategi tekanan terhadap Hormuz belum menghasilkan kemenangan politik yang jelas bagi Teheran, tetapi juga belum menghilangkan kerentanan sistem energi global terhadap gangguan geopolitik.

Dampaknya sudah bergerak melampaui hubungan bilateral Iran-AS dan masuk ke ranah ekonomi politik global, terlihat dari harga Brent yang berada di sekitar US$100 per barel pada 6 Oktober 2026 serta meningkatnya biaya pengangkutan energi dari kawasan Teluk.

Reuters melaporkan bahwa gangguan logistik, kenaikan premi risiko, dan keterbatasan kapasitas penyulingan membuat harga energi tetap tinggi meskipun volume ekspor regional mulai pulih, menunjukkan bahwa perang menciptakan persoalan distribusi yang tidak dapat diselesaikan melalui peningkatan produksi semata.

Dalam konteks tersebut, kebuntuan diplomatik menghasilkan mutually hurting stalemate, sebuah situasi ketika kedua pihak mengalami kerugian besar tetapi belum menemukan titik kompromi yang dapat diterima secara politik.

Iran menghadapi tekanan terhadap ekspor minyak, stabilitas ekonomi, dan kapasitas fiskalnya, sementara Amerika Serikat menghadapi biaya militer, tekanan harga energi, ketidakpastian pasar, serta risiko perang regional yang lebih luas.

Konflik seperti ini berbahaya sebab setiap pihak dapat menganggap bahwa menambah tekanan akan memperbaiki posisi tawar, padahal akumulasi tekanan tersebut justru dapat menghancurkan kondisi minimum yang diperlukan untuk membangun kembali kepercayaan.

Jalan keluar dari kebuntuan tidak cukup dibangun melalui pertemuan bilateral yang berulang, sebab masalah utama saat ini bukan ketiadaan forum komunikasi tetapi runtuhnya kredibilitas komitmen di antara para pihak.

Teori credible commitment menjelaskan bahwa kesepakatan akan sulit bertahan ketika masing-masing pihak memperkirakan lawannya dapat mengubah kebijakan setelah memperoleh konsesi awal.

Sehingga Iran takut membuka akses Hormuz sebelum memperoleh jaminan, sementara Washington khawatir memberikan pelonggaran sanksi sebelum mendapatkan kepastian mengenai keamanan nuklir dan maritim. Dengan kondisi tersebut, solusi perlu dirancang sebagai mekanisme bertahap yang membuat tindakan satu pihak menghasilkan insentif konkret bagi tindakan pihak lainnya.