NADIKABAR.COM — Sebanyak 1,9 juta lapangan kerja baru tercipta di Indonesia selama Agustus 2024 hingga Agustus 2025. Pada periode yang sama, tingkat pengangguran terbuka turun menjadi 4,9 persen. Angka ini menunjukkan bahwa perekonomian masih mampu menyediakan kesempatan kerja bagi masyarakat.
Namun, laporan Indonesia Economic Prospects Bank Dunia edisi Juni 2026 juga mencatat tantangan yang perlu mendapat perhatian. Hampir separuh lapangan kerja baru tersebut berasal dari sektor dengan produktivitas relatif rendah, terutama pertanian serta akomodasi dan jasa makanan.
Pada Agustus 2025, proporsi pekerja paruh waktu yang bekerja kurang dari 35 jam per minggu mencapai 32,7 persen, sementara upah riil pekerja berketerampilan menengah dan tinggi turun sekitar satu hingga dua persen per tahun sejak 2018.
Dua gambaran itu memperlihatkan arah pekerjaan rumah pembangunan Indonesia. Penciptaan lapangan kerja merupakan capaian penting, tetapi tantangan berikutnya adalah memastikan pekerjaan tersebut mampu meningkatkan pendapatan dan membuka jalan menuju kehidupan yang lebih sejahtera.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia menunjukkan momentum yang positif. Pada triwulan I 2026, ekonomi tumbuh 5,6 persen secara tahunan. Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan sebesar 5,0 persen pada 2026, sebelum meningkat menjadi 5,2 persen pada 2027 dan 2028. Proyeksi tersebut menunjukkan bahwa fondasi pertumbuhan tetap tersedia, meskipun ketidakpastian global masih membayangi.
Momentum ini perlu dimanfaatkan untuk memperkuat kualitas pertumbuhan. Sebab, keberhasilan pembangunan tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat ekonomi berkembang, tetapi juga oleh seberapa luas kesempatan yang tersedia bagi masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan.