"Halusinasi itu bahkan disebut terasa semakin nyata ketika pasien memejamkan mata."

Meski kasus tersebut telah lama diketahui, identitas jamur penyebabnya baru berhasil diketahui secara resmi pada 2015. Peneliti membeli sampel jamur dari sebuah pasar di Yunnan dan kemudian melakukan analisis DNA.

Hasil penelitian menunjukkan L. asiatica merupakan spesies yang sebelumnya belum dikenal secara ilmiah. Jamur tersebut ternyata lebih dekat kekerabatannya dengan jamur porcini (Boletus edulis) dibandingkan dengan spesies jamur "ajaib" atau jamur psikoaktif yang telah dikenal.

Namun, hingga kini para peneliti belum berhasil menemukan senyawa psikoaktif yang menyebabkan munculnya halusinasi melihat "peri" yang konsisten tersebut.

Penelitian terhadap tikus juga telah dilakukan. Ketika tikus diberi ekstrak L. asiatica, hewan tersebut menjadi sangat aktif sebelum akhirnya mengalami kondisi seperti linglung. Tentu saja, tidak diketahui apakah tikus-tikus tersebut juga melihat manusia kecil.

Saat ini, L. asiatica bahkan disajikan di sejumlah restoran di Yunnan. Jamur tersebut dikenal memiliki cita rasa umami, tetapi diperlukan cara khusus untuk mengolahnya agar aman dikonsumsi.

Salah satunya dengan memasak jamur hingga benar-benar matang. Konsumsi alkohol bersama hidangan tersebut juga dilarang. Beberapa restoran bahkan menyimpan sampel jamur untuk diperiksa jika kemudian terjadi masalah.

Efek yang ditimbulkan biasanya berlangsung selama satu hingga tiga hari, tetapi dalam beberapa kasus dapat bertahan hingga sekitar satu minggu.