"E-waste lebih berbahaya dibanding sampah yang lain karena di dalamnya ada komponen yang kalau sampai bocor, keluar dari casing-nya, air bisa tercemar," jelas Nizhar.
"Sayangnya sistem penanganan sampah elektronik belum baik, sering tercampur di sampah RT," lanjutnya.
Untuk itu, XLSMART, Remind, dan ITB membangun kolaborasi pengelolaan sampah elektronik agar dapat mengurangi potensi limbah berbahaya sekaligus meningkatkan nilai ekonomi dari komponen limbah elektornik yang masih bisa digunakan.
Kolaborasi tersebut menghadirkan Bye Bye Box, mesin otomatis yang dirancang sebagai tempat pengumpulan barang elektronik bekas. Lewat mesin ini, masyarakat dapat menyetor sampah elektronik ke dalam mesin untuk kemudian ditukar menjadi poin berhadiah.
Barang yang terkumpul nantinya akan melalui proses pemilahan dan pengelolaan lebih lanjut. Tim dari ITB akan melihat kemungkinan perangkat untuk diperbaiki, sedangkan material yang tidak dapat digunakan kembali akan diproses melalui material recovery.
"Manajemen sampah elektronik masih perlu dimaksimalisasi. Kita mulai dari langkah paling awal yaitu mengumpulkan sampah dari konsumen. Setelah itu kita kelola, lalu lakukan material recovery dan didokumentasikan sehingga bisa di-track dan dipertanggungjawabkan," tutur Dzikiri.
Dzikiri mengatakan Remind ingin mendorong konsep ekonomi sirkular dengan mengembalikan material dari sampah elektronik ke dalam rantai pasokan industri.
"Remind ingin ciptakan sirkular ekonomi, ingin kembalikan value sampah elektronik kembali ke rantai pasokan," ujarnya.