"Kalau kita berbicara gunung api, terutama aktif, kita harus melihat 1883 ketika Krakatau meletus itu kan menimbulkan tsunami. 36 ribu orang korban di sana," ujar Adi.
Dia berharap mekanisme yang terjadi saat erupsi 1883 tidak sama seperti sekarang. Saat itu, kata dia, energi yang tersimpan dan terakumulasi di Gunung Anak Krakatau membuat erupsi yang dikeluarkan lebih berbahaya.
"Kita berharap mekanisme letusannya tidak lagi seperti 1883, walaupun potensi itu bisa terjadi. Kita berharap energi yang ada di Anak Krakatau itu tidak terakumulasi. Sebenarnya berbahaya kalau dia terakumulasi. Mudah-mudahan energinya bisa terlepas sedikit demi sedikit," bebernya.
Adi juga berharap masyarakat sudah bisa mengenali tanda-tanda akan terjadinya erupsi. Sehingga, ketika tanda-tanda itu muncul, warga bisa langsung bergerak mengevakuasi diri secara mandiri.
"Kita lihat apa ada asap, ada erupsi yang keluar. Kalau dia ada kepulan asap, dentuman, itu berarti kita sudah masuk di waspada. Kalau letusannya terus menerus berarti dia sudah masuk level siaga. Kalau erupsinya mengeluarkan material sangat besar dan membahayakan berarti sudah dalam level paling tinggi sehingga sudah mesti evakuasi," kata dia.