NADIKABAR.COM — Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi hingga mengeluarkan abu vulkanik. Pakar Kebencanaan Universitas Hasanuddin (Unhas) Prof Adi Maulana mewanti-wanti bahaya menghirup debu vulkanik secara langsung, salah satunya karena mengandung banyak silika.

"Jadi ketika suatu gunung api meletus itu nanti dia akan mengeluarkan material-material. Pertama itu magma sifatnya lava. Kemudian kedua ada material sifatnya batuan, lava pijar namanya, ada yang jauh, dekat. Itu tergantung dari energinya," ujar Adi saat berbincang dengan NadiKabar, Senin (7/9/2026).

Adi mengungkapkan ada material lebih halus lagi yang disebut abu vulkanik. Debu inilah yang disebut mengandung banyak silika dan dapat mengganggu saluran pernapasan.

"Tentu debu juga ini itu sangat membahayakan karena debu dari aktivitas vulkanik atau hasil erupsi itu sebenarnya mengandung banyak silika. Dan silika itu kalau sangat keras masuk ke pernapasan tentu akan mengganggu saluran pernapasan," ungkapnya.

"Jadi boleh dikata sama dengan kaca yang dipecahkan halus-halus. Itulah yang dihasilkan Anak Krakatau dalam bentuk debu. Sehingga tidak dianjurkan langsung untuk menghirup debu dari Anak Krakatau," imbuh Adi.

Selain debu vulkanik, masyarakat juga perlu waspada terhadap gas yang ditimbulkan dari erupsi Gunung Anak Krakatau. Adi menyebut gas tersebut bisa menjadi racun dan berbahaya bagi kesehatan masyarakat.

"Masing-masing gunung api punya karakteristik. Tapi biasanya itu material yang akan dihasilkan ada tiga. Pertama itu lava, dalam hal ini cair. Kemudian material piroklastik dalam bentuk batuan debu. Kemudian ketiga itu gas. Nah gas ini yang biasanya nanti beracun karena mengandung SO2, CO2," paparnya.

Karena itu, Adi mengimbau warga untuk menjauhi radius bahaya erupsi Gunung Anak Krakatau. Warga diminta menggunakan masker dan memerhatikan secara detail bahan-bahan makanan yang hendak dibeli atau dikonsumsi sudah bersih atau bebas dari material erupsi.

"Kalau bisa kita mengurangi aktivitas di luar rumah. Kalua pun kita ingin melakukan aktivitas di luar rumah yah tentu kita harus di tempat yang tertutup atau menggunakan masker," terangnya.

"Kemudian juga kalau misalnya katakanlah mungkin betul-betul melihat untuk areal-areal terbuka itu diusahakan untuk kemudian bisa memastikan. Apalagi misalnya di pasar dan lain sebagainya, kita betul-betul memastikan bahwa kita bisa terus membersihkan makanan-makanan," sambungnya.

Adi Maulana kemudian menyinggung erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi pada 1883 silam. Dia menyebut saat itu erupsi memicu tsunami hingga menyebabkan 36 ribu orang menjadi korban.

"Kalau kita berbicara gunung api, terutama aktif, kita harus melihat 1883 ketika Krakatau meletus itu kan menimbulkan tsunami. 36 ribu orang korban di sana," ujar Adi.

Dia berharap mekanisme yang terjadi saat erupsi 1883 tidak sama seperti sekarang. Saat itu, kata dia, energi yang tersimpan dan terakumulasi di Gunung Anak Krakatau membuat erupsi yang dikeluarkan lebih berbahaya.

"Kita berharap mekanisme letusannya tidak lagi seperti 1883, walaupun potensi itu bisa terjadi. Kita berharap energi yang ada di Anak Krakatau itu tidak terakumulasi. Sebenarnya berbahaya kalau dia terakumulasi. Mudah-mudahan energinya bisa terlepas sedikit demi sedikit," bebernya.

Adi juga berharap masyarakat sudah bisa mengenali tanda-tanda akan terjadinya erupsi. Sehingga, ketika tanda-tanda itu muncul, warga bisa langsung bergerak mengevakuasi diri secara mandiri.

"Kita lihat apa ada asap, ada erupsi yang keluar. Kalau dia ada kepulan asap, dentuman, itu berarti kita sudah masuk di waspada. Kalau letusannya terus menerus berarti dia sudah masuk level siaga. Kalau erupsinya mengeluarkan material sangat besar dan membahayakan berarti sudah dalam level paling tinggi sehingga sudah mesti evakuasi," kata dia.