"Waktu makan yang lebih siang sebaiknya dipahami sebagai penanda risiko potensial dan mungkin merupakan pola makan yang dapat diubah, bukan sebagai bukti pasti adanya hubungan sebab-akibat secara langsung," ujar penulis senior penelitian, Zhilei Shan, kepada ScienceAlert.

Penelitian ini juga memiliki sejumlah keterbatasan. Peneliti hanya mengamati pola makan peserta dalam satu periode 24 jam. Faktor lain seperti pola tidur dan waktu aktivitas juga belum sepenuhnya diperhitungkan.

Penelitian lain sebelumnya turut mengaitkan kebiasaan makan lebih siang dengan perubahan jam biologis tubuh, lonjakan gula darah, dan peningkatan hormon stres.

Karena itu, temuan ini lebih tepat menjadi pertimbangan mengenai pentingnya waktu makan, bukan patokan bahwa sarapan terlambat bisa memperpendek usia.