NADIKABAR.COM — Medio April 2026, Presiden Prabowo Subianto duduk berhadapan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Kremlin, Moskow. Pokok pembicaraan keduanya jauh dari basa-basi protokoler, yakni minyak mentah dan elpiji.
Sejak Maret, Selat Hormuz tertutup oleh kecamuk perang di Timur Tengah. Akibatnya, Indonesia kehilangan akses atas seperlima pasokan minyak mentah dan LPG. Pertemuan di Kremlin berujung pada peningkatan kerja sama pasokan energi jangka panjang, termasuk cadangan minyak mentah dan LPG. Sehari berselang, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sudah menemui Menteri Energi Rusia untuk merinci tindak lanjutnya.
Secara umum, lawatan itu layak disebut sebagai manuver taktis di saat genting, di mana harga minyak dunia melonjak lantaran pasokan yang berkurang. Apabila ditarik ke belakang, ia lebih sesuai dipahami sebagai buah dari pekerjaan yang jauh lebih panjang.