Menurut perseroan, rangkaian kegiatan tersebut menjadi sarana bagi kedua perusahaan untuk memperkuat pemahaman mengenai potensi risiko, ketentuan pertanggungan, serta mekanisme penanganan klaim.
"Melalui kegiatan ini, kami ingin memastikan bahwa perlindungan yang diberikan dapat dipahami secara menyeluruh dan selaras dengan kebutuhan operasional Bukit Asam," ujar Brellian.
Corporate Secretary Division Head PT Bukit Asam (Persero) Tbk Eko Prayitno mengatakan mitigasi risiko yang menyeluruh diperlukan untuk menjaga kelancaran kegiatan usaha dan keberlanjutan operasional perusahaan.
"Bagi kami, mitigasi risiko yang komprehensif adalah kunci untuk memastikan operasional bisnis berjalan lancar dan berkelanjutan," kata Eko.
Menurut dia, kegiatan tersebut memberikan kesempatan bagi Bukit Asam untuk memperdalam pemahaman mengenai perlindungan asuransi yang dimiliki, sekaligus mendiskusikan berbagai risiko terkait kegiatan operasional pertambangan.
Penguatan pengelolaan risiko menjadi penting seiring dengan besarnya aset dan kegiatan operasional Bukit Asam sebagai salah satu perusahaan pertambangan batu bara nasional.
Berdasarkan laporan kinerja perusahaan pada 29 Oktober 2026, total aset Bukit Asam mencapai Rp51,55 triliun per 30 September 2026, meningkat sekitar 17 persen dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar Rp43,92 triliun.