Sepanjang Januari hingga September 2026, Bukit Asam mencatat produksi batu bara sebesar 34,41 juta ton, sedangkan volume penjualan mencapai 32,23 juta ton.
Bukit Asam juga menargetkan produksi batu bara sekitar 49,5 juta ton sepanjang 2026, sehingga pengelolaan risiko terhadap aset, peralatan, dan kegiatan operasional menjadi salah satu aspek penting dalam mendukung keberlangsungan usaha.
Brellian mengatakan komunikasi dan koordinasi yang berkelanjutan antara perusahaan asuransi dan pihak tertanggung diperlukan untuk memastikan pemahaman mengenai perlindungan tetap sesuai dengan kebutuhan serta karakteristik risiko perusahaan.
Jasindo juga berupaya memperkuat perannya sebagai mitra pengelolaan risiko atau risk management partner (RMP), tidak hanya melalui perlindungan asuransi, tetapi juga pendampingan dalam mengidentifikasi dan mengantisipasi potensi risiko.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesiapan perusahaan menghadapi berbagai risiko, sekaligus mendukung ketahanan operasional dan keberlanjutan kegiatan usaha.
"Kami berharap kolaborasi dengan Bukit Asam dapat terus memberikan nilai tambah, khususnya dalam memperkuat pengelolaan risiko dan mendukung keberlanjutan bisnis perusahaan," ujar Brellian.