NADIKABAR.COM — Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto mengungkap jejak jaringan narkotika yang berujung pada terbongkarnya laboratorium rahasia atau clandestine lab terbesar di Indonesia. Jaringan ini terdeteksi sejak Februari 2026 dan dipantau selama berbulan-bulan sebelum akhirnya digerebek di Pidie, Aceh.
Dari pengungkapan tersebut, polisi menyita narkotika dengan total sekitar 1,2 ton bruto, terdiri dari sabu cair dan sabu kristal. Kronologi pengungkapan kasus ini disampaikan Jenderal Suyudi dalam konferensi pers di Pidie, Aceh, Jumat (23/10/2026).
Jejak jaringan ini bermula pada Februari 2026. Saat itu, polisi mendeteksi jaringan narkotika asal China yang mengangkut ratusan kilogram liquid methamphetamine atau metamfetamin cair.
"Pada bulan Februari 2026, jaringan narkotika asal Tiongkok terdeteksi. Mengangkut ratusan kilogram metamfetamin cair atau liquid methamphetamine. Dari Myanmar utara melintas ke Laos dan Thailand sebelum tiba di tujuan akhir, yaitu Banda Aceh, Indonesia, pada 18 Mei 2026," kata Suyudi.
Dari penelusuran tersebut, polisi kemudian mengidentifikasi dua warga negara China yang berperan sebagai peracik atau ahli kimia jaringan tersebut. Keduanya yakni LJ (45) dan XM (42).
Pada 21 Mei 2026, LJ dan XM berangkat dari Yunnan, China. Keduanya transit di Malaysia sebelum masuk ke Banda Aceh pada 24 Mei 2026.
Mereka kemudian menginap selama sekitar 10 hari di sebuah hotel di Banda Aceh. Selama berada di Aceh, keduanya melakukan survei wilayah. Setelah itu, LJ dan XM kembali ke Malaysia pada 2 Juni 2026.
Jejak jaringan kembali terdeteksi pada akhir Juli 2026. Kali ini, pengiriman metamfetamin dilakukan dalam jumlah lebih besar.
"Pada akhir Juli 2026, kedua WNA tersebut memulai pengiriman tahap kedua kurang lebih hampir 1 ton metamfetamin cair, yaitu melalui rute yang sama seperti tahap 1. Cairan disamarkan dalam kaleng hijau bermerek Itanpro untuk mengelabui petugas," ujar Suyudi.
Rute pengiriman kembali melalui Myanmar utara, Laos, dan Thailand sebelum menuju Indonesia.
Setelah pengiriman tersebut, dua WN China itu kembali ke China. Di sana, mereka diketahui mendapat bantuan dari seorang WNI berinisial B.