Kemudian pada Juni 2025, Bea Cukai Mumbai menyita 284 satwa eksotis dalam empat kiriman dari Bangkok, Thailand, yang meliputi ular dan kura-kura.
Sebulan berselang, petugas bea cukai di Pune menyita 20 satwa eksotis dari penumpang yang tiba dari Bangkok. Petugas menemukan 14 piton pohon hijau, empat burung nuri ara bermata ganda, dan dua kelinci belang Sumatra.
Data TRAFFIC mencatat ada 7.272 satwa, baik hidup maupun mati, disita dari bagasi penumpang dalam upaya penyelundupan tim redaksi Thailand dan India sepanjang Januari 2022 hingga Mei 2025. Lebih dari 80 persen penyitaan terjadi di India.
Satwa yang ditemukan beragam, mulai dari reptil, burung, hingga mamalia. Banyak di antaranya diduga akan diperdagangkan sebagai hewan peliharaan eksotis.
"Kami menemukan ratusan spesies dan ribuan satwa yang diperdagangkan secara ilegal ke India melalui jalur udara dan darat. Situasinya berubah drastis sejak sekitar 2020," kata peneliti dan praktisi konservasi Uttara Mendiratta kepada DW.
"Baik volume perdagangan ilegal maupun jumlah spesies yang terlibat, banyak di antaranya terancam punah, sungguh mengejutkan."
Menurut TRAFFIC, India dan Malaysia menjadi dua negara yang paling banyak teridentifikasi dalam rantai perdagangan ilegal owa pada 2025, dengan pergerakan satwa dari Malaysia menuju India.
Trishala Ashok, pembuat film konservasi dan komunikator sains, mengatakan skala perdagangan tersebut masih sulit dipastikan.
"Sistem penegakan hukum kita belum berkembang secepat perdagangan ini," kata Ashok kepada DW. "Kita masih menangani kasus satu per satu, alih-alih memetakan jaringan, penyandang dana, pemasok, dan pembeli di baliknya."
Tito Joseph dari Wildlife Protection Society of India mengatakan situasinya semakin memburuk.
"Penyelundupan spesies eksotis memang selalu ada di India," kata Joseph kepada DW.